Sajak untuk Malam: Bulan

Dan pada malam, yang paling mencuat ada bulan. Sendiri namun tetap percaya diri. Tentu saja ia begitu karena ia yang amat puas dengan rupanya. Lalu aku bertanya, apa yang membuat bulan indah?

Matahari yang di sana menyahut, “Itu karena aku! Aku memberinya cahaya, aku meminjamkannya warna. Tanpaku jingga menyala ia pucat tak bernyawa”

Bumi yang menguping tersinggung, “Akulah yang membuatnya tampak wujud, hingga apa-apa ia turut mengikut. Tanpa lenganku mengekang ia jauh mengawang.”

Bulan tahu selalu posisinya. Betapa ia hina campur jelita. Namun ia tahu balas budi. Selang berapa waktu, selalu dipotongi tubuhnya, dan dibaginya bersama Matahari dan Bumi.

Malam yang sedari tadi menyaksikan jatuh cinta pada bulan. Diberinya punggung, diparuh olehnya panggung. Asal bulan selalu ada mengorbit jiwanya yang sepi.

Bulan setuju. Lagipula, hanya pada malam yang tulus ia menyinar memukau. Hanya untuk malam.

23.07

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s