Puisi untuk yang Patah Itunya

Belakangan, saya banyak berjalan-jalan ke blog yang bermaterikan sastra puisi dan sajak. Sungguh luar biasa membaca karya mereka. Seolah insting mereka sudah akrab dengan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia serta pandai memasang sekaligus menyocokkan kata mana ke kata mana sehingga menjadi elok dibaca lagi indah didengar. Entah apa yang harus ditempuh untuk menghasilkan karya seperti itu. Apa karena banyak membaca? Lantas apa yang dibaca?

Lalu setelah beberapa puisi, saya menemukan beberapa kesamaan. Hampir seluruh puisi yang saya baca bertemakan tentang cinta. Yap, cinta. Cinta romantis kalau masih kurang jelas.

Dan dari tema cinta itu, sub-tema yang diangkat sangat beragam macamnya. Mulai dari bagaimana dahsyatnya serangan dopamin saat pandangan pertama, indahnya menjalani dunia hanya berdua, dan yang paling banyak tentang sakitnya patah hati alias galau stadium 4. Membaca puisi sakit hati ikut menyayat hati saya. Mata saya pun ikut perih membacanya. Namun puisi cinta jenis ini yang paling banyak saya jumpai. Ada sesuatu yang membuat galau ‘paling enak dibawa bikin puisi’. Entah apa sesuatu misterius itu, Yang jelas kegalauan meningkatkan produktivitas sastrawi.

Dapatlah saya jadikan ini pelajaran pertama: galau membuat seseorang menjadi lebih produktif (dengan cara yang sangat puitis)

Malas mengakuinya, tetapi (mungkin) saya sendiri pernah merasakannya. Momen di mana galauness menyentuh klimaks dan tiba-tiba saya ingin berpuisi. Kata-kata bermunculan secara random, bergantian mengawang di kepala. Tinggal menyusun kata tersebut menjadi padu-sepadunya. Momen ini yang saya sebut bangkitnya insting sastra dan tak ada yang lebih baik selain patah hati untuk membangkitkan insting sastra tersebut. Bisa jadi inilah jalan keluar bagi para pecinta sastra yang ingin membuat puisi memesona. Banyak membaca? Tentu. Tetapi masing-masing kita butuh pengalaman riil yang mampu membangkitkan naluri sastrawi kita untuk mengalir dari benak ke pena (atau keyboard). Sakit hati lah pengalaman terbaik itu. Semakin sakit, semakin baik, karena bisa semakin dalam puisi yang kita cipta

Maka yang saya simpulkan untuk pelajaran kedua: banyak-banyaklah mencinta, rajin-rajinlah patah hati, dan kita akan terlahir menjadi pujangga ajaib didikan alam.

.

.

.

Aih. Mungkin saya harus memikirkan ulang 2 pelajaran di atas. Entah darimana ide konyol nan bodoh seperti itu.

Pelajaran ketiga: patah hati membuat kita berpikir konyol

Sumber komik

Advertisements

24 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s