Jika Harga Rokok Naik: Negatif dan Positif

Izinkan  saya ungkapkan rasa syukur saya atas adanya wacana naiknya harga rokok hingga berkali-kali lipat (lebih tepatnya cukai rokoknya yang naik). Tanpa bermaksud mendiskreditkan para perokok, saya pikir ini adalah berita yang baik untuk generasi Indonesia yang lebih sehat. Publikasi tentang buruknya rokok bagi kesehatan sudah ada di mana-mana. Kanker paru, mulut, tenggorokan, esofagus, pankreas, hati dan sejumlah kanker lainnya menjadi contoh dari akibat buruk merokok. Ditambah lagi hasil berbagai penelitian yang menyatakan bahwa merokok ikut memperpendek umur (salah satunya ini). Oleh karena itu naiknya harga rokok kurang lebih dapat dikorelasikan dengan kesehatan masyarakat Indonesia

Di sisi lain, naiknya harga rokok juga memberikan impak negatif. Hal ini saya sadari setelah diskusi singkat dengan teman saya yang walaupun bukan perokok namun menggaungkan dampak negatif naiknya harga rokok ini. Saya pun terpaksa manggut-manggut karenanya. Toh yang ia ungkapkan memang benar. Berikut saya sampaikan opini saya mengenai efek buruk naiknya harga rokok.

Naiknya harga rokok bisa jadi meningkatkan kriminalitas

Karena efek ketergantungan, hanya karena rokok semakin mahal tidak serta-merta jumlah perokok menurun dalam waktu singkat. Saya menduga perokok akan menjadi lebih ‘kreatif’. Salah satu bentuk kreativitas itu adalah tindak kriminal

Yang paling menderita dengan naiknya rokok ini adalah perokok kelas bawah alias kalangan elit (ekonomi sulit) sedangkan rendahnya tingkat ekonomi seringkali dihubungkan dengan kriminalitas. Tidak menutup kemungkinan dengan naiknya harga rokok ini angka kriminalitas ikut naik untuk memenuhi candu akan rokok. Yang namanya sudah candu, kalau tidak diikuti rasanya sangat berat. Pasti sangat menderita bila rasa ketagihan itu tak terobati. Sulitnya mendapatkan rokok karena mahal menjadikan tindak kriminal jalan keluar yang rasional (tidak secara moral)

Jumlah Pengangguran Bertambah

Industri rokok melibatkan banyak pekerja mulai dari proses produksi hingga distribusi ke konsumen. Katakanlah pekerja buruh pelinting rokok, pemetik cengkeh dan lain sebagainya.

Bisa dibilang industri rokok sangat menikmati bisnis rokok yang berjalan di Indonesia. Bagaimana tidak? Harga rokok yang murah dengan cukai yang relatif kecil dibanding negara lain menyebabkan jumlah konsumen yang sangat banyak. Ditambah lagi dengan strategi marketing dan branding strategis, untungpun dapat diraup maksimal. Bahkan bisa sampai bisa mengalokasikan miliaran beasiswa dan konser level internasional. Kini muncul wacana harga rokok akan naik. Dalam teori mikroekonomi, permintaan akan suatu barang menurun jika harga barang tersebut naik. Dampak bagi industri rokok adalah diperkirakan omzet rokok menurun karena hilangnya konsumen merka. Memang nilai rokok naik. Tetapi lesunya pembelian memicu industri rokok khususnya yang kecil gulung tikar dan yang besar tak menutup kemungkinan akan melakukan penyusutan jumlah pegawai demi efisiensi perusahaan. Sekali lagi rakyat kecil yang terkena dampaknya

Merebaknya Rokok Ilegal

Ini salah satu bentuk kreativitas yang saya sebut di atas tadi. Kalau memang rokok bungkusan komersil yang legal beredar menjadi mahal, cari saja rokok yang lain. Yang selundupan luar negeri, melinting sendiri, atau bikinan industri kecil yang ilegal. Diperkirakan rokok-rokok ilegal ini akan semakin menjamur. Di sinilah saya merasa bangsa Indonesia ini bangsa dengan sejuta akal

Pemerintah harusnya siap dengan kemungkinan ini. Tujuan utama dinaikkan harga rokok ini adalah untuk membatasi jumlah perokok di Indonesia. Kalau masyarakat punya jalan keluar lain dengan mengonsumsi rokok ilegal, kebijakan ini jadi tidak efektif. Apalagi kalau alih-alih rokok ilegal itu terdistribusi luas. Percuma menaikkan harga rokok tetapi konsumennya tetap saja banyak. Pajak rokok yang semakin mahal menjadi bumerang bagi perekonomian. Tidak efisien, tidak tepat sasaran

Nah, poin-poin di atas yang saya sampaikan adalah impak negatif kalau harga rokok jadi naik. Lalu bagaimana dampak positifnya?

Sejujurnya malas saya menulis dampak positifnya karena saking banyaknya. Toh masalah pro-kontra rokok bukahlah hal baru. Sudah berkali-kali menggaung baik di diskusi kecil anak sekolah sampai ke para pembuat kebijakan di Senayan sana. Masing-masing dari kita sudah mendengar betapa rokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Bayangkan manfaat apa yang diperoleh kalau dampak buruk itu ikut perlahan-lahan lenyap bersamaan dengan naiknya harga rokok.

Sebenarnya apa peduli saya dengan wacana ini? Biarlah perokok yang merasakan dampaknya sendiri kalau memang naik. Buat apa saya repot-repot bersuara?

Saya tidak merokok dan kebijakan ini kemungkinan kecil dampaknya untuk saya. Saya hanya tidak senang bagaimana rokok mempermainkan alam sadar kita. Bagaimana kita bisa patuh dengan benda yang hanya 7 senti. Bahkan kita tahu benda itu punya miliaran maksud buruk pada tubuh kita. Dan yang lebih parah, melihat anak-anak dan remaja penerus bangsa merokok seperti mereka sedang makan permen. Pemandangan itu menyakitkan…


Yah begitulah. Seperti kebijakan penting dan strategis lainnya, wacana ini disambut respon beragam. Yang dapat saya lihat di beberapa forum, ternyata yang kontra dengan naiknya harga rokok lumayan banyak. Argumen-argumen yang disampaikan persis dengan apa yang saya tulis di atas, tentang efek negatif rokok. Bahkan ada yang mengatakan naiknya harga rokok berarti merampas hak asasi para perokok.

Jelas banyak pihak belum siap kalau harga rokok mendadak naik, baik dari masyarakat (umumnya perokok) dan pemerintah. Karena perubahan drastis di harga barang yang banyak dikonsumsi akan menyentak seluruh aspek sosial-ekonomi. Sangat disarankan kajian mendalam dan eksperimen serius yang mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif.

Seharusnya tulisan ini berakhir pada garis horizontal di atas. Tetapi karena ‘sesuatu’ terjadi, terpaksa saya menulis lagi…

Di beberapa media, telah tersebar foto-foto harga rokok yang telah berubah mahal. Saya sendiri kaget melihatnya. Perasaan hari kemarin masih normal-normal saja ujug-ujug hari ini naik jadi 400 atau 500 persen. Sembari saya menulis tulisan ini, saya dapati semua gambar itu palsu. Semua itu karya kreatif anak bangsa yang ikut menghangatkan wacana naiknya harga rokok. Kalau diingat lagi jadi kesel sendiri -_-.  Inilah ‘sesuatu’ itu

WhatsApp Image 2016-08-20 at 14.18.43

Dari sebaran WA. Palsu! Saya yakin hasil editan sotoshop

Sekali lagi, untuk kebijakan strategis seperti ini butuh waktu untuk penerapannya secara maksimal. Butuh waktu untuk menyempurnakannya agar negara ini tidak salah langkah. Meskipun begitu saya turut berdoa diwujudkannya kebijakan ini. Tidak hanya saya, seringkali saya lihat di tempat umum orang-orang yang tersiksa fisik dan batin. Pengakuan mantan perokok tentang buruknya rokok juga sudah banyak. Bangsa ini sudah sakit-sakitan karena sebagian andil rokok. Kalau tanpa rokok berarti mengobati satu penyakit kita, kenapa tidak?

Sumber gambar paling atas: Di sini

Advertisements

18 comments

    1. Sangat berbobot dan sarat fakta. Yah, yang namanya sudah menyangkut bisnis skala raksasa, tekong-tekong itu saya rasa tidak akan tinggal diam. Mereka perlu mengontrol masyarakat awam agar dapat terus berjaya. Salah satu caranya lewat media pemberitaan dan literatur-literatur.
      Senang melihat orang-orang seperti Bang Ronny yang nggak berbicara lewat akal sehat namun juga data. Semoga berkat suara-suara seperti ini makin banyak masyarakat yang sadar adanya kemungkinan konspirasi di dalam perindustrian rokok Indonesia

      Liked by 1 person

  1. Sebagai rakyat jelita, saya juga punya hak agar tidak terpapar polusi asap rokok, ada yg bisa memperjuangkan gak ya? 🙂
    Kalo dikaitkan sama ham kyknya agak gmn gitu ya. Misalnya, saya punya hak memiliki rumah sbg kebutuhan pokok. Tapi, gak ada uang. Lalu, yg jual rumah mahal dianggap melanggar ham gitu? *entah analoginya nyambung atau gak* 😀
    Yg jelas, merokok atau gak itu pilihan, dan sepertinya gak nyangkut ke hak 😀

    Liked by 1 person

    1. Wahai rakyat jelita, saya amat sependapat dengan apa yang saudara diuatarakan. Kalau bicara hak berarti kita nggak bisa melihat hak dari satu pihak saja melainkan dicari win/win solution yang paling mendekati. Saya pun setuju kalau merokok disebut hak asasi itu sudah terlalu jauh

      Liked by 1 person

    1. Bagus banget bang. Persis dengan apa yang saya cari. Banyak riset, banyak data. Isi beritanya sangat informatif.

      Buat para pembaca, karena terlanjur sudah baca sampai sini, coba klik linknya. Isinya tentang hasil studi-studi di Amerika tentang hasil kebijakan yang ditempuh untuk menekan jumlah perokok. Ada dengan cara menaikkan harga rokok, membuat tempat bebas asap rokok, sampai penanaman cara pikir di sekolah-sekolah. Cobain deh. Dijamin nggak rugi

      Yang menarik:
      “We now have empirical evidence that people who don’t like the tobacco industry are about five times as likely to quit, and a third to a fifth as likely to start,”

      Wkwkwk.. lebih mudah berhenti merokok karena benci industri rokok ketimbang dampak kesehatannya

      Like

    1. Amiin. Emang serem kalau ngelakuin tindak kriminal cuma demi rokok…
      Kalau asap rokok, perokok aja mungkin nggak suka kalau wajah mereke kena sembur asap dari rokok orang lain heuheu. Semoga jumlah perokok bisa berkurang

      Liked by 1 person

  2. Jujur, mendengar berita harga rokok naik, saya cuek-cuek saja. Pikiran saya sederhana saja, saya menduga bahwa yang kaya dan perokok tetap bisa membeli rokok. Sedang masyarakat menengah ke atas atau ke bawah akan protes dan demo habis-habisan.
    Kalo bicara soal rokok, itu adalah pembahasan yang sensitif buat masyarakat kita. Karena hal tersebut dianggap biasa dan sudah seperti kebudayaan, mungkin? Rokok sendiri merupakan suatu hal yang bisa disukai dan dibenci. Tergantung bagaimana orangnya. Saya sendiri tidak suka dg asap rokok dan rokoknya, tapi saya tidak sampai membenci perokok. Saya beranggapan bahwa tidak semua orang -terutama masyarakat kelas menengah ke bawah- mengetahui akan bahaya rokok bagi kesehatan. Saya memaklumi ketidak tahuan mereka. Di samping itu, meskipun dia perokok, tidak berarti dia orang orang jahat dan tidak baik.
    Rencana kebijakan pemerintah kita memang oke sih. Tentunya kebijakan tersebut harus siap berhadapan dengan tipikal masyarakat Indonesia yang ngeyel banget dan suka hidup semaunya. Mungkin pemerintah maksudnya baik, tapi masyarakat Indonesia.. yaaah tau sendirilah kayak gimana hehehe.
    Nice post ya! Hehe. Maaf jadi ikut beropini panjang lebar/

    Like

    1. Haha, kebawa emosi nih…
      Tentang masyarakat Indonesia yang ngeyel banget itu memang setuju. Pasti banyak suaranya kalau memang tidak suka. Yah kita lihat saja kelanjutannya bagaimana

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s