Tiga Alasan Jakarta Macet

Ngomong Jakarta ya berari ngomong tentang macet. Sudah pasti. Saya yakin setiap yang pernah ke Jakarta pasti pernah terjebak macet mughallazah yang sudah nggak ketolong lagi. Hmm.. mungkin…

Akibat status kota Jakarta dan sebagai pusat perekonomian, banyak orang berbondong-bondong datang untuk mencari penghidupan. Alhasil Jakarta overloaded. Penuh, padat, dan sesak. Tiga deskripsi di atas jelas tergambar di jalan raya Jakarta khususon saat jam pergi dan pulang kerja. Duh, itu yang namanya kendaraan nggak tau lagi mau ngomong apa. Saking penuhnya pejalan kaki saja nggak dikasih tempat buat jalan karena jatahnya diserobot sepeda motor

Jadi kalau ada kasus perjalanan yang aturannya cuma setengah jam malah jadi dua jam, saya pikir itu sudah biasa di Jakarta. Dongkol? Jelas. Sayangnya nggak banyak yang bisa kita lakukan. Ya habis kita mau gimana lagi.

Sejatinya, persoalan transportasi Jakarta sudah menjadi permasalahan sedari dulu . Tak berlebihan kalau saya katakan kemacetan parah sekarang sedikit banyak berasal dari sumbangsih keadaan masa lalu. Para pendiri Kota Jakarta menjadikan tata ruang dan kota yang kompleks. Satu lokasi dan lainnya saling tumpang tindih. Ditambah lagi perizinan pembangunan lahan yang kurang ketat yang berakibat munculnya bangunan-bangunan yang tak strategis serta menimbulkan macet.

Berangkat dari situ, saya coba merangkum opini dari kenyataan yang ada, kira-kira mengapa di Jakarta bisa macet parah. Lantas, apa yang harus dibenahi agar masalah kemacetan ini mereda?

1. Transportasi yang Kurang Memadai

DSCF4110.JPG

Transportasi umum adalah sarana terbaik pengurai kemacetan. Logikanya sederhana. Macet terjadi karena kendaraan yang terlalu banyak. Kendaraan yang terlalu banyak terjadi karena orang-orang lebih memilih kendaraan pribadi. Dengan kendaraan umum, banyak kendaraan yang berkeliaran di jalan berkurang drastis

Sayangnya fasilitas kendaraan umum yang kita punyai sekarang masih jauh dari kata sempurna. Dari segi jumlah misalnya. Bus Transjakarta yang jadi primadona dirasa kurang apabila melihat penumpang yang bersesakan di pagi dan sore hari. Pun kondisi kereta commuter line lebih naas lagi menurut saya. Orang-orang saling berhimpitan satu sama lain. Saking terhimpitnya, mau mencari pijakan saja susah. Apalagi ketika mau keluar dari kereta. Saya pikir ini sudah cukup untuk dijadikan alasan agar menambah armada baru bagi segala jenis transportasi umum baik itu transjakarta, commuter line, metro mini, angkot dan lain sebagainya

Nah itu baru dari segi kuantitas. Bagaimana dengan kualitas? Tentu masih banyak ruang untuk terus berbenah. Hal yang paling kentara adalah dari transjakarta dan angkot-metro mini. Kadang miris campur deg2an saya merasakannya. Contohnya metro mini yang saya naiki waktu itu. Busnya sudah megap-megap, seakan sedang sakaratul maut. Batuknya sudah di atas level ‘berdahak’. Belum lagi kriminalitas yang senantiasa haru diperhatikan. Sedangkan untuk transjakarta, beberapa bus tua memang sering menimbulkan masalah seperti pintu yang menutup terlalu keras (atau tak bisa menutup), sensor yang tidak peka, atau faktor keselamatan yang patut dipertanyakan. Memang sudah ada petugas yang mengawasi namun saya rasa itu belum cukup lantaran memang sulit untuk menjaga satu bus hanya dengan satu penjaga di satu pintu

Beberapa hal di atas memicu orang untuk berlomba-lomba untuk memiliki kendaraan pribadi demi kemudahan mobilitas dan kenyamanan. Akhirnya jalanan semakin macet dan macet tiap harinya. Berdasarkan berita dari antaranews.com, di Jakarta jumlah kendaraan tumbuh sebesar 12% tiap tahunnya. Kalau dikonversikan persentase itu akan setara 5500 hingga 6000 kendaraan baru tiap harinya. Aih membayangkannya saja malas.

Kita patut bersyukur karena sebentar lagi (persis coming soon-nya RCT*) proyek MRT akan rampung. Saya sangat antusias menyambutnya karena sebagai pengguna setia transportasi umum itu akan semakin memudahkan saya. Biarlah baru sedikit wilayah jangkau pada awalnya, asalkan pengembangannya terus dilakukan. Karena sebenarnya yang sangat kita butuhkan adalah alat transportasi yang cepat berkapasitas raksasa. Jumlah penduduk yang terlalu padat hanya dapat dipindahkan dengan jenis transportasi ini. Semoga saja MRT ini berhasil menjalankan tugasnya

  • Perbanyak jumlah kendaraan plat kuning, armada transjakarta, dan commuter line beserta trayeknya
  • Memberikan fasilitas kendaraan umum yang nyaman, aman, dan ramah lingkungan
  • Kampanye besar-besaran menggalakkan penggunaan transportasi umum

2. Etika Berkendara yang Buruk

DSCF4112.JPG

Wah ini sih sudah pasti. Karena terbiasa berdesak-desakan, orang Jakarta jadi sensitif menyangkut masalah macet. Banyak yang tidak lagi taat peraturan lalu lintas.  Kalau sudah terjebak macet a la Jakarta, semua orang jadi ganas. Seakan segala cara dihalalkan agar bisa keluar dari jalan. Mungkin sebagian kita yang sadar aturan menyalahkan saudara kita yang seenaknya dan tidak beretika selama berkendara.

Saya beranggapan di Jakarta tidak ada yang namanya lampu merah. Adanya cuma hijau dan kuning, yang artinya bersiap-siap dan gaspol. Rasanya orang-orang pantang menunggu lama agar semakin cepat sampai tujuan. Kebiasaan-kebiasaan ini mengakibatkan menumpuknya kendaraan. Mungkin terdengar sepele, namun kebiasaan tadi menumbuhkan kompetisi antar pengendara. Saling mendahului dan enggan mengalah. Ujung-ujungnya malah terjebak tidak dapat maju

Hal lain yang membuat macet adalah parkir/berhenti di sembarang tempat. Alasannya seringkali sederhana. Susah mencari parkir, niatnya cuma berhenti sebentar, atau ngetem mendapatkan penumpang lebih banyak. Di sinilah polisi lalu lintas berperan

Saran:

  • Sosialiasi tertib berkendara yang masif
  • Regulasi peraturan lalu lintas yang ketat dan tanpa pandang bulu

3. Kebijakan Pengaturan Transpotasi yang Belum Efektif

Sejak tanggal 27 Juli 2016 kemarin, sistem ganjil-genap kemarin sudah diterapkan Pemprov DKI Jakarta menggantikan peran 3-in-1 dalam menanggulangi macet. Sebenarnya cara kerja sistem 3-in-1 lumayan rapi. Dengan menetapkan jumlah minimal penumpang kendaraan, orang akan berpikir 2 kali untuk membawa kendaraan sendiri. Kebijakan ini menahan jumlah kendaraan agar tetap di rumah dan bagi yang ingin bepergian dapat mempertimbangkan menggunakan kendaraan umum atau menumpang dengan kendaraan lainnya. Tetapi memang orang Indonesia memang dasarnya pintar mengakali. Tak lama setelah diterapkannya kebijakan ini, bermunculan orang-orang yang menyodorkan 3 jari di pinggir jalan. Yes, joki 3-in-1

Para joki ini membuat cara kerja sistem 3-in-1 tidak semaksimal yang diharapkan. Berefek mengurangi kemacetan? Tentu. Tetapi outputnya tidak seperti yang diharapkan. Dan sekarang muncul sistem ganjil genap. Bagaimana mekanisme ganjil genap akan saya bahas di post berikutnya

Ada banyak contoh dari negara-negara yang menerapkan kebijakan mengurangi kemacetan di mana hampir semuanya berfokus pada pengurangan jumlah kendaraan. Misalnya Mexico City yang membatasi jumlah kendaraan yang lewat jalan utama kota selama 14 jam dalam sehari sesuai digit terakhir kendaraan bermotornya atau pajak kepemilikan mobil yang mahal milik Singapura. Kedua negara tersebut sudah jauh lebih dulu menerapkan kebijakan menahan macetnya sendiri dengan menghasilkan dampak yang signifikan. Pertumbuhan jumlah kendaraan Singapura hanya 3% dalam setahun. Dalam kondisi jalanan di sana mayoritas dapat dilewati dalam kecepatan 45-60 km/jam di jalan raya. Masih banyak lagi negara yang memiliki kebijakannya sendiri yang secara efektif menahan jumlah kendaraan (London: kendaraan yang melaju pada peak hour harus membayar). Yang perlu kita lakukan adalah banyak-belajar dari negara-negara yang ada

Saran:

  • Menerapkan kebijakan yang sesuai dengan karakteristik Jakarta (penduduk banyak, wilayah pindah menengah-jauh, jalanan sempit)
  • Mengambil dan mempelajari contoh kebijakan penanggulangan macet yang ada di negara lain
  • Mengoreksi kesalahan kebijakan di masa lalu

 

Terakhir saya ingin mengatakan, mengatasi kemacetan bukan hanya peran pemerintah. Semua penduduk Jakarta punya peran untuk menjadikan Jakarta Tanpa Macet. Berawal dari diri sendiri, kemudian menular ke tiap individu dan akhirnya mimpi tiap Orang Jakarta akan terwujud 🙂

18.46

Yang lelah terjebak macet

Advertisements

13 comments

  1. Belum pernah ke Jakarta seumur hidup 😂😂😂
    Kak, kalo nomor plat ganjil genap itu direalisasikan, apakah jumlah kemacetan di jakarta akan berkurang?

    Like

    1. Secara teori iya za. Kan kalau ibarat tidak ada mobil berplat genap di hari ganjil dapat diasumsikan jumlah mobil berkurang setengahnya. Masalahnya sekarang prakteknya ini

      Liked by 1 person

    1. Nah iya, saya juga sudah nonton. Yang orangnya eksperimen pura2 ngeliat sesuatu di pinggir flyover gitu kan? Ngakak aja ngeliatnya. Ciri orang Indonesia asli tuh. Apapun masalahnya, yang penting ngumpul 😀

      Liked by 1 person

    1. Hahaha.. kalau kesabaran sih saya gak berani bilang. Tapi yang jelas orang Jakarta sudah ‘beradaptasi’ dengan macet ini… mengembat jalanan trotoar jadi jalanan motor misalnya

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s