Bersepeda lalu Jalan Kaki lalu…

“Heh. Tumbenan nggak pakai sepeda. Padahal udah jam segini juga. Katanya mau konsisten nge-gowes?” Cibir Bambang pada Wandi. Maksud Bambang pastilah mengolok Wandi. Sebelumnya Wandi sudah berikrar akan memaksimalkan nilai guna sepeda bekas barunya. Caranya ya dipakai setiap hari tiap ada kesempatan. Namun kali ini, meski sudah terlambat, ia malah memilih berjalan kaki.

“Hmm, yahhh. Cuaca begini mah enaknya jalan kaki”

Tentu bukan itu jawaban sebenarnya. Ia sudah telat. Kelas kuliahnya akan dimulai sebentar lagi. Lagipula mana ada cuaca yang cocok buat pejalan kaki. Umumnya jalan kaki adalah opsi setelah tak ada opsi lagi dalam melakukan perjalanan. 

Ada alasan tertentu bagi Wandi pada hari itu yang membuatnya meninggalkan kebiasaan bersepeda ke kampus yang sudah dijalaninya selama seminggu. Sebelumnya ia memang sengaja membeli sepeda agar ia tidak keringatan lagi ketika sampai di kampus. Jarak antara kosnya dan kampus ‘hanya’ 15 menit jalan santai. Tetapi dengan jarak begitu cukup membuatnya berpeluh luar biasa dengan berjalan kaki. Tiap pagi, teman-temannya selalu bertanya, “Nggak sempat jemur baju, Wan?” karena bajunya yang basah bagai baru dicuci. Untuk itu ia membeli sepeda baru (bekas). Kini ia berharap teman-temannya berkata, “Wuih, tetap kering anti bocor nih sekarang”

Sip, berangkat. Semoga hari ini ketemu lagi!

Yah. Hanya ada satu alasan yang membuat pemuda berambut jarang bermuka sangar ini berdoa layaknya gadis muda optimis dalam sinetron. Gadis muda sebenarnya

Kemarin, saat ia telat gara-gara Bambang terlalu lama di kamar mandi (kata Bambang setelah keluar, “sorry ya, keras banget tadi”), Wandi berkesempatan melihat Mega dengan mata kepalanya sendiri. Siapa Mega?

Begini, Mega atau “Si Ratu Ngaret” adalah legenda hidup kampus Wandi. Ia terkenal karena riwayat telatnya yang fenomenal. Ia sering telat tanpa pandang bulu dosen. Artinya mulai dari dosen killer hingga dosen pengganti semua ia telati. Terlambat sudah mengalir dalam darah Mega. Bahkan ia punya zona waktu sendiri yang banyak orang sebut sebagai waktu khusus Mega, yaitu WIB+30 menit. Oleh karena itu umumnya mahasiswa baik-baik dan disiplin tidak akan pernah bertemu dengan Mega. Bahkan Wandi yang sangat disipliner, menganggap keberadaan Mega hanyalah mitos.

Tetapi hari itu, ia berkesempatan melihat Mega sedang berjalan kaki di jalan panjang menuju kampusnya. Tentu tak ada di benaknya sama sekali kalau perempuan yang berjalan kaki itu adalah Mega karena ia tak mengenalnya. Yang ada di benaknya: itu perempuan tercantik yang pernah kutemui! Fakta perempuan itu adalah Mega ia ketahui belakangan.

Dan begitulah, pada hari ini Wandi memutuskan berjalan kaki. Teorinya simpel. Berjalan kaki menghabiskan waktu lebih lama dibanding bersepeda. Otomatis kalau berjalan kaki di waktu yang tepat (atau waktu yang telat) akan berpeluang melihat Mega untuk waktu yang lebih lama. Wandi merindukan yang namanya jatuh cinta dan ia ingin merasakan itu kembali dalam durasi yang panjang.

Namun yang terjadi di luar dugaan…

Wandi datang tepat waktu, waktu khusus Mega. Tetapi Mega ternyata naik sepeda sekarang.Ia mengayuh bagai kuda, melesat melewati Wandi jauuuh di belakang.

 

Wandi, pemuda 21 tahun berambut jarang, selalu ditinggal cinta.

Cinta paling belakang sekalipun.


NB: gambar tidak nyambung hehe

Advertisements

9 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s