Untukmu yang Tidak Pulang Kampung…

Eh kamu pulang nggak? Kapan pulang? Tiket tanggal berapa? Emang ke sana tanggal berapa? Bareng siapa saja? Kapan terakhir kali pulang? Kalau ke sana biasanya harga tiket berapa? Berapa lama perjalanan? Terus kapan pulangnya? Ambil jatah bolos nggak?

Sepuluh pertanyaan yang sedang hangat-hangatnya terdengar seantero kampus. Pulkam dan segala sinonimnya yang menumbuhkan luka bagi tokoh utama kita. Sebut saja ia Ipul.

“Hmm, menumbuhkan luka? Sebenarnya tidak juga. Apa enaknya pulang kampung yang cuma 2 minggu?” Logika Ipul mencoba menghibur dirinya.

Sejenak kemudian ada suara lain membalas…

“Banyak! Nggak ingat apa udah berapa lama nggak pulang kampung? Apa jangan-jangan lu udah kehilangan rasa kemanusiaan yang namanya rindu?” Itu suara Batin atau dengan kata lain hati terdalamnya. Batin mengatakan hal yang kontra dengan Logika

Nah, inilah para pembaca, yang namanya hati (dimainkan batin) dan pikiran (dilakoni Logika) tidak sinkron. Logika mengatakan A dan Batin menyebutkan C. Tidak kompak, tidak sejalan, tidak harmonis. Biasanya kita juga merasakan hal yang sama saat jatuh cinta. Saat yang benar terasa salah dan yang salah terasa benar.

Kemudian… Tak terasa wilayah sekitar kampus pun menjadi sepi

Ipul kemudian menimbang-nimbang. Kenyataan dia tidak pulang pada lebaran kali ini memang tidak terbantahkan lagi. Mustahil ia memberi kejutan ibunya dengan membeli sendiri tiket pesawat yang jutaan rupiah itu. Pun ia tidak mungkin meminjam dari tunjangan yang masih beku. Kalau ia melakukannya entah apa isi perutnya semester depan.

“Oke. Memang aku tidak sempat liburan bersama orang di rumah, tapi setidaknya aku sempat tinggal di kamar ini demi menyelesaikan semua urusan tertunda!” Pikir Ipul

“Memangnya apa maksudmu urusan tertunda?” Batin bertanya sinis pada Logika. Dari tadi Batin sudah tidak senang dengan cara pandang Logika

“Heh. Coba kau lihat sekelilingmu. Pakaian luar, pakaian dalam, celana luar, celanda dalam, semua kotor. Bahkan Si Ipul cuma pakai sarung sekarang. Ya, cuma sarung, tanpa dalaman! Sarung itupun adalah sarung yang sama sejak 2 hari lalu.”

Skor 1-0 untuk Logika. Batin terpaksa mengalah, karena hati siapapun yang melihat rupa kamar Ipul pasti akan bersedih. Bagaimana bisa ia tinggal dalam kondisi begini?

Ipul pun mulai bergerak. Mula-mula ia mencuci pakaiannya karena ia sudah tak tahan lagi memakai sarung itu. Kemudian kamarnya yang persis lokasi syuting Titanic. Ia mulai beres-beres dari sudut barat daya kamarnya. Mungkin Ipul memang malas, tetapi kalau sudah beres-beres, tak ada secuil debu pun yang tetap tinggal. Semua jadi terasa berkilau. Bahkan kita bisa bercermin di keramik kamarnya.

Tanpa terasa kegiatan bersih-bersihnya memakan waktu hingga lebaran…

“Nah coba lihat, apa yang Ipul lakukan sampai lebaran? Cuma bersih-bersih! Sia-sia sudah waktunya selama ini.” Batin menyalahkan Logika. Logika yang jadi merasa bersalah mencoba membela lemah

“Tapi kan…”

“Ah, mau tapi apa lagi? Sakit hati aku melihat Ipul. Wajahnya pun kini kusam, mendung, dan bagai tak bernyawa karena kelelahan.” Batin memprotes

Skor kini 1-1. Batin dan Logika sama kuat. Dan ternyata skor tersebut bertahan hingga…

“Ipul, lagi di kosan nggak?” Suara perempuan! Ipul mengenali suara itu. Itu suara Mega, mahasiswi tempatan pujaan kampus. Ipul segera bergegas membuka pintu.

“Tapi mengapa Mega datang ke sini?” Batin dan Logika akhirnya kompak, kompak menanyakan hal yang sama. Mereka lalu bertatapan malu.

“Pul, nih ada kue lebaran. Nggak banyak sih, tapi dimakan ya. Yang buat gue sendiri lho”

Ipul memerah. Kue itu tak bertahan lama. Dalam sekejap sudah habiskan. Bukan karena ia lapar. Lebih karena senang.

TAMAT

Lalu adakah moral dari cerita di atas? Mungkin tidak ada. Tetapi ingat satu hal penting ini. Saat satu pintu yang kita tuju tertutup, Tuhan akan membuka pintu lainnya lebar-lebar. Yang perlu kita lakukan hanya menyadarinya 🙂

13600050_1084016031677166_155913422968260541_n

Persembahan untuk mereka yang tidak kampung selama lebaran,

terkhusus teman sejawat budak statistik

sebentar lagi aku datang ke kampus!

Advertisements

One comment

  1. bihihi itu yang memerah apanya Ipul Mas 😀
    yaa bagi yang tidak mudik karena himpitan biaya legowo saja bercengkrama dengan sanak saudara di kampung dengan frekuensi telepon selular

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s