Dan Ini Dia… Ramadhan!

Ah, bulan Ramadhan rasanya nggak klop kalau nggak nulis tentang bulan berkah ini sama sekali. Meski rasanya sudah telat banget sih kalau biknnya baru sekarang -_-.

Ramadhan. Yah, umat muslim sedunia paham arti datangnya bulan ini. Semua menyambut datangnya ramadhan dengan bergembira. Tentu alasannya banyak. Pertama amalan dan ibadah bernilai berlipat-lipat lebih besar dibanding bulan lainnya. Tak heran jumlah pengunjung masjid, frekuensi tilawah, pengeluaran sedekah dan lainnya meningkat drastis. Ibarat lagi diskon akhir tahun, pastinya semua orang mau meraup untung sebanyak-banyaknya. Lalu juga ada amalan khusus ramadhan seperti puasa wajib dan tarawih. Sayang men kalau waktu ramadhan amalan ibadah kita nggak berubah sama sekali.

Kedua. Suasana ramadhan yang bikin kangen. Di bulan lain, saya terkadang rindu sama ‘marching band sahur’ yang tanpa fee mau membangunkan kita. Saya kangen dengan ramenya subuh dan tarawih di masjid sampai lantai masjid dekat rumah kami terlihat sempit. Juga dengan pasar ta’jil yang berhasil merubah saya menjadi makhluk pemboros. Dan ketika saya masih kecil, ramadhan artinya libur panjang dan waktu main sepuasnya! Mulai dari seusai subuh ada jalan pagi ceria sambil curcol khas remaja lelaki tanggung. Habis itu lanjut dengan main di atas lapangan voli alias tarkam. Setelah itu pasti bubar sebentar karena paling nggak salah satu dari ibu kami sudah datang ngejewer jemput anaknya buat pulang. Persekongkolan kami kembali bersatu setelah dzuhur buat main PS sampai ashar dan dilanjutkan dengan ngabuburit sehat. Ngabuburitnya kalau nggak diisi jalan sehat 2, main bola: revenge, atau monopoli. Wah, sungguh bernostalgia.

Meski begitu ada beberapa hal yang membuat saya sedih di bulan ramadhan ini. Biasanya, di hampir tiap masjid yang saya kunjungi menunjukkan trend negatif dalam hal jumlah pengunjung. Trend ini jelas terlihat di saat tarawih. Katakanlah di paruh pertama ramadhan terdapat 15 shaf shalat, maka di paruh akhir bisa tinggal 3 atau 4 shaf saja. Mungkin dikarenakan bosan (Masya Allah) atau ada kegiatan lain di akhir ramadhan.

Terlebih, yang saya baru tahu ketika mulai beranjak dewasa, ternyata ada cukup banyak orang yang tidak berpuasa. Orangnya sudah gede pula.Terkadang saya berpikiran positif saja, menganggap semua orang yang sedang tidak berpuasa di bulang ramadhan sedang haid atau non-muslim. Saya pribadi nggak masalah melihat mereka makan dan minum karena nggak merasa terganggu. Hanya saja puasa ramadhan itu wajib. Kalau ditinggalkan berarti… Ini salah satu yang membuat banyak yang bilang kalau kualitas lebih baik dari kuantitias. Melihat negara kita sebagai negara  dengan muslim terbesar di dunia namun berpuasa saja tidak kuat.

Alhamdulillah saya masih dapat bertemu dengan ramadhan tahun ini. Saya pun masih bisa merasakan suasana kental ramadhan. Rindu akan ramadhan terbayar sudah. Dan bagaimana dengan kamu? Apa makna ramadhan bagimu?

Advertisements

4 comments

  1. Alhamdulillah, masih bisa ketemu ramadhan jugaaak. Dan taun ini melakukan sesuatu yang biasanya di tahun2 sebelumnya ga ngelakuin karena males ffftt. Tapi seneng sih, ada peningkatan 🙂

    Liked by 2 people

  2. Ramadhan itu kata guru ku ujian ketaqwaan……….. tapi masih gatau nilai taqwaku berapa atau malah belum sampe derajat itu. Jadi ramadhan dateng malah deg2an dan suka sedih sendiri .. 🙈

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s