Stiletto

(1)

Mungkin inilah yang dinamakan mother-daughter’s moment. Ketika ibu dan anak perempuannya menikmati waktu dengan jalan berdua. Walau berjalan beriringan, pikiran mereka berfokus pada 2 hal berbeda. Si Ibu awas melihat para pemuda yang sesekali melirik anaknya sedang Si Anak bahagia luar biasa karena momen ini menandakan tumbuhnya jiwa wanita dalam dirinya

“Apa nggak sakit jalan jinjit pakai ini ma?” Wajahnya menunjukkan ketidakyakinan. Stiletto yang ada di tangannya menunggu harap agar segera dipakai.

“Cuma di awal kok. Paling nanti juga terbiasa kayak mama.”

Bujuk rayu Si Ibu tidak terlalu berhasil tampaknya. Si Anak masih merasa tidak yakin. Tambah tidak yakin mungkin

(2)

“Aduh duh duh, nggak enak ma. Udah sakit banget ini…”

Entah ‘aduh’ yang ke berapa yang ia sebut barusan. Si Anak tak pernah begitu kesalnya berjalan kaki 10 menit seperti kesal yang ia rasa sekarang.

“Ayo tahan nak. Namanya juga belajar jadi perempuan.”

Dalam hati ia bertanya, mengapa jadi perempuan itu sakit?

Advertisements

7 comments

    1. Aish, nggak dund. Saya mah laki, banget…
      Tadi pas jalan pulang ketemu ibu-anak yang lagi latihan pakai high heels. Nggak begitu paham sebenarnya, tp si anak ngeluh gitu. Ting! Jadi ide cerita deh

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s