50 atau 100

Suatu waktu saya mendapat pr membuat karya yang namanya flash fiction untuk semacam komunitas menulis kampus. Flash Fiction? Fiksi kilat. Singkat, padat, memikat.

Karena belum tahu apa itu flash fiction, meluncurlah saya ke laman2 rekomendasi Ustadz Google. Lumayan banyak info yang saya dapatkan. Salah satunya patokan suatu larya dikatakan flash fiction. Patokan tersebut adalah jumlah kata. Beberapa mengatakan sebuah flash fiction mengandung 1000 kata. Ada pula yang bilang maksimal 350 kata, 100 kata, dan yang paling ekstrem… 50 kata. Saya ikut yang 50 kata

Tak ada yang mutlak benar di antara patokan-patokan itu. Karena kalau bicara sastra kita berbicara kebebasan. Jadi kalau mau bilang flash fiction itu harus kurang dari 500 kata menurut saya tidak terlalu masalah. Toh hanya masalah persepsi. Kita hanya perlu menyesuaikan persepsi kita kepada orang lain apabila masuk wilayah orang lain itu

Masalahnya, saya baru sadar sadar saya tergolong golongan ekstrimis di dunia ke-flashfiction-an. Ini mengakibatkan (sejauh yang saya tahu) tak banyak orang lain yang membuat karya fiksi 50 kata. Saya merasa kesepian.

Tentu saya menikmati flash fiction 50 kata. Dari segi proses dan hasil. Membuat cerita super singkat membuat kita berpikir keras sebelum menulis. Memilah-milih apa yang harus dipakai dan apa yang harus dibuang. Dan menurut saya yang paling penting adalah ide cerita. Karena cuma 50 kata, kita tak punya kesempatan untuk meninggalkan bekas di benak pembaca kalau terlalu berlama-lama. Keburu sudah di kata ke-49. Di sinilah letak tantangan flash fiction. Tak seperti novel yang memiliki intro-konflik-klimaks (walau menurut saya membuat novel jauh lebih menantang). Makanya yang namanya ide cerita sangat penting dalam flash fiction.

Tetapi kembali lagi, saya kesepian. Tak banyak yang berkarya seperti apa yang saya buat. Saya sendiri mengutarakan ini setelah menemukan buku 100 Kata: Kumpulan Cerita 100 Kata. Cerita yang ada di sana luar biasa bagus. Persis dengan definisi ‘bagus’ yang saya idam dan cita-citakan. Cerita seperti itu yang ingin saya buat. Dan sepertinya mereka yang membuat flash fiction 100 kata seperti itu ada banyak. Di sinilah asal kecemburuan saya.

Yah, mungkin saya bisa sedikit melonggarkan aturan main saya sendiri. Kalau dulu cuma mau nulis flash fiction 50 kata, sekarang bakal coba yang 100 kata juga. Perbedaannya nggak banyak sih -_-

Bagi yang minat ngintip cerita 50 kata (baru sedikit) yang saya buat, klik ini

Advertisements

4 comments

  1. Dulu suka banget nulis flashfiction, lama kelamaan disuruh nulis cerpen jadi berasa beraaaaat banget soalnya kebiasaan nulis pendek pendek wks. Paling berkesan waktu nulis 123 kata, pembukaan sama klimaks tuh yg pqling nyita kata editnya jadi abis abisan /curhatdeh

    Keep writing!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s