Riwayat Epidemik Selama di Rantau

Kampus saya, STIS tercinta, sedang terjangkit wabah hepatitis A šŸ˜¦

Lebih dari 20 orang dilaporkan sudah positif terjangkit penyakit itu dalam jangka waktu seminggu yang lalu dan diperkirakan jumlahnya akan bertambah. Mungkin angka 20 itu terlihat kecil, tetapi bagi kami yang kuliah di kampus kecil angka itu sangat besar. Apalagi dengan penyakit yang levelnya terbilang cukup serius. Selama ini kalau ada anak STIS yang masuk rumah sakit, jenis penyakitnya kalau tidak tipes ya gejala awal DBD. Dua penyakit itu aja sudah membuat kami getar-getir. Maksudnya takut terkena juga

Alhamdulillah saya patut bersyukur karena selama kuliah tidak pernah terkena penyakit seserius yang disebutkan di atas. Paling-paling penyakit jadi2an ‘enter wind’Ā atau diare. Penyakit khas mahasiswa kalangan bawah hehe. Sakit yang saya alami paling parah adalah ketika saya digigit tikus (yap, nggak salah baca) sekitar 2 tahun yang lalu saat musim banjir. Digigitnya di jempol kaki kiri. Lukanya sih tidak sakit dan hanya terlihat bekas jarum suntik di dua titik. Bahkan teman saya dengan sok taunya bilang itu nggak apa2 dan biasa saja. Dokter aja kalah pinter kalau liat gayanya teman saya ini. Tetapi tentu saya tidak percaya katanya karena namanya juga tikus, yang hampir semua makanan ia konsumsi. Entah bakteri apa saja yang berternak di mulutnya itu.

Benar saja, esoknya saya demam parah. Pusing kepala berat, badan panas tapi merinding, tungkai lemas dan lainnya yang malas saya mengingatnya. SaatĀ itu saya pikir paling panasnya cuma sebentar, baru 3 hari kemudian saya sadar kalau saya salah. Karena saya tak kunjung membaikĀ juga bahkan setelah 3 hari. Oleh karena itu akhirnya saya memutuskan untuk berobat sekaligus konsultasi di beberapa klinik. Saya takut tikus itu mewariskan bakteri pes dalam darah saya. Aih, bayanginnya aja malas.

Yang saya kesal dari berobat ke dokter, kebanyakan dokter yang saya datangi kurang bisa memberikan simpati atas penyakit yang diderita pasiennya. Mungkin karena sudah terlalu seringĀ menangani pasien atau bosan dengan bertemu penyakit yang itu-itu saja. Ini membuat pasien yang mungkin merasa sangat khawatir akan parahnya penyakit mereka malah tidak yakin dengan diagnosa dokter karena ditanggapi dengan malas atau kurang serius. Akhirnya pasien malah semakin was-was. Dan kurang lebih itu juga yang saya rasakan waktu itu. Sewaktu bertanya apa saya terkena pes, sang dokter malah dengan enteng menjawab “nggak kok, kamu nggak apa2” dengan nada setengah bercanda. Saya yang mendengarnya tentu menjadi tidak yakin karena yang saya rasakan adalah sebaliknya. Dokter itu bisa saja benar, tetapi walaupun begitu seharusnya ada cara lain dalam menyampaikan berita itu agar pasien merasa tenang dan aman.

Resep obat dari dokter klinik sudah saya minum secara teratur, tetapi belum ada efek signifikan yang saya rasakan. Saya masih saja demam dan pusing, disertai mimpi buruk tikus yang menggigit saya datang kembali, lagi dan lagi. Tikus di mimpi saya menjadi raksasa dan lari mengejar saya dengan wajah lapar. Mungkin ia bermaksud menyelesaikan makannya yang belum selesai waktu itu huhu.

Wajar kalau saya (sedikit) trauma setelah saat itu. Oh ya, akhirnya saya sembuh setelah pergi berobat ke puskesmas. Di luar dugaan kan? Setelah mengeluarkan biaya di klinik, saya malah sembuh setelah makan obat dari puskesmas secara gratis. Tis. Pelayanan yang saya dapatkan waktu itu juga menyenangkan hati saya karena sugesti positif dokter puskesmas tersebut dengan mudah saya terima. Saya harapĀ pengalaman ini bisa mengubah cara hidup sehat ala saya yang selama ini saya anggap sudah baik dan wabah hepatitis di kampus saya segera mereda.

Ini bagian serunya menjadi mahasiswa rantau. Mencoba melatih diri mengurus hidupĀ mulai dari remeh temeh. Seperti selalu memilih jalan yang agak lebar supaya bisa kabur saat ada tikus mendekat.

(sumber gambar)

Advertisements

8 comments

  1. wah hati2 mas,biasanya penularan hepatitis A itu dari peralatan makan sama air. apalagi kalau makan di warung makan,walaupun terlihat bersih,kadang sanitasinya kurang. di kampus saya dulu juga endemik hepatitis. dan dari penelitian anak kesehatan masyarakat,ada beberapa warung makan yg menularkan virus tsb. padahal tempatnya terlihat bersih.
    semoga sehat selalu mas! šŸ™‚

    Like

  2. Hallo salam kenal! kalo diliat postingan nya, berarti masih mahasiswa yaah.
    Saya juga pernah jadi mahasiswa rantau, dan memang yaaah kalo lagi sakit , kalo saya bawaan nya sih inget rumah. kangen orangtua di rumah ^^

    Like

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, Mfadel…

    Sebaiknya jangan ditangguh kalau sudah kenal pasti penyebab sakitnya. Syukur tidak mudharat hingga membawa maut. Sekurangnya, Allah SWT sudah memberi kesadaran kepada kita untuk menjaga nyawa sendiri.

    Salam sukses dari Sarikei, Sarawak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s