Kutukan Cupid, bahkan di Akhir

Katanya besok pagi kiamat dan yang bilang begitu semua orang. Aku, manusia, sama sekali tak percaya kalau bangsaku dapat mengetahui atau paling tidak meraba-raba kapan datangnya akhir dunia. Bencana alam? Tentu. Tingkat kecerdasan kita memang diciptakan untuk mendapatkan jawaban ‘apakah lusa malam akan datang tsunami?’. Kalau cuma itu hewan dan tumbuhan pun tahu. Mungkin kelewatan kalau kita tidak bisa memprediksi datangnya bencana alam dengan teknologi seperti sekarang ini. Yang ingin kukatakan di sini adalah ada beberapa pertanyaan yang memang tak akan ditemukan jawabannya tak peduli sepintar apapun orang itu. Kapan datangnya akhir dunia adalah salah satunya.

Tapi filsafat yang aku umbarkan tadi hanya sekedar ujaran. Parahnya lagi yang bertutur barusan adalah  aku. AKU!!! Sang filsuf bisu!

Apalah daya. Bahkan seorang tirani masih bisa diinjak oleh proletar. Maka kini aku, yang hanya satu suara, mau tak mau ikut panik akan datangnya kiamat esok.

Ibu menahanku untuk pergi dari rumah. Ia takut. Aku takut. Tapi aku harus pergi. Mungkin masih sempat. Harus. Aku akan lari. Lari

Langit kemerahan. Onar merayapi dunia. Kurasa kami sedang mempercepat datangnya kiamat. Karena riuh kian mengaduh. Semua orang mendadak sinting. Mereka semua mengacau sepuasnya. Toh besok semua akan mati. ‘Kenapa tidak kunikmati sisa napasku sesukaku? Orang lain pasti maklum!’ Dan karena logika rasional seperti itu batasan moral telah lenyap. Ada pegawai bodoh yang mencoba mencegah orang-orang merompak toko miliknya dan akhirnya tertunduk menangisi kebodohannya. Beberapa sudah menggantung diri di depan palang pintu. Ada yang makan layaknya binatang rakus. Ada pula yang mendadak religius berdoa, padahal sebelumnya mengingat Tuhan pun tak pernah. Dan sisanya ada aku, orang yang luntang-lantang berlarian demi merasa cinta, untuk yang terakhir. Mungkin.

Lalu layaknya kertas, tanah tempat ku menapak koyak. Gaduh makin ricuh. Kalau kiamat ditandai dengan gempa, kesimpulannya kiamat dipercepat

Tanpa sadar aku sampai tujuan. Bait-bait yang kukarang untuk kukatakan sontak menguap ketika melihat rumahnya berubah jadi puing. Hancur lebur. Yang bersisa cuma anak lelaki kecil menangis di depan rumah itu. Kudengar ia memanggil ayah dan ibu berkali-kali. Tak begitu jelas karena ia mengatakannya sambil menangis. Sayangnya ini bukan waktunya untuk simpati…

“Mana Leila !!? MANA LEILA !!???”

Tentu saja ia menjawab dengan teriakan tangisnya. Tak ada lagi yang namanya akal sehat di saat ini, jadi aku tetap saja terus menanyainya sambil mengguncang tubuhnya. Lalu akhirnya aku tahu. Leila, wanita yang aku tuju, suka, cinta, pergi sesaat setelah rumahnya runtuh. Pergi menyusul Theo, untuk menikah sekarang juga. Leila seakan gila. Sebelum waktu habis ia ingin menikah. Haha

Antiklimaks. Ya aku tahu. Theo si arogan itu. Seandainya aku perempuan, aku juga mungkin akan memaksa menikah dengannya. Hanya saja fakta ini tak bisa kuterima sekarang. Di saat aku membuang semuanya untuk ketidaklogisan. Entahlah. Aku merasa hampa. Ini pasti kutukan Cupid

Aku harus curhat ke Ibu. Semoga wangi surga masih dapat tercium dari kakinya

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s