Dinamo

Menurutku, moment pertama selalu yang paling berkesan. Selalu.

Mungkin begini. Tak banyak yang kuingat saat naik pesawat terakhir kali dari Bali-Jakarta. Aku tidak ingat siapa nama pramugarinya. Aku tidak ingat apa aku mual atau tidak waktu itu. Pun aku sama sekali tidak ingat bagaimana wajah dan rupa orang yang duduk di sebelahku. Mengapa? Karena bukan pertama kali aku bepergian dengan pesawat dan hal itu membuatku terbiasa. Secara naluriah pikiran sadarku tidak menganggap itu sebagai momen yang spesial lagi.

Tetapi begitu banyak yang kuingat mengenai pengalamaku bepergian pertama kali dengan pesawat. Padahal cuma naik pesawat namun entah mengapa itu sangat berkesan. Mau naik saja deg-degan luar biasa. Aku ingat nama pramugarinya Fanny Audrianti. Aku ingat aku mual saat itu. Dan aku ingat betul orang yang duduk di sebelahku waktu itu perempuan Cina yang curhat padaku dalam Bahasa Cina.

Serupa halnya dengan kuliah. Meski mungkin aku tidak ingat persis apa yang dipelajari saat Riset Operasi kemarin, aku masih ingat betul apa yang kupelajari saat hari pertama kuliah. Kuliah perdana. Saat seluruh wali, mahasiswa, dan Ketua STIS berkumpul satu ruangan.

“Kata orang kalau mau cari orang pintar di Indonesia, cari ke Jatinegara. Kebetulan STIS di Jatinegara”

Ketua STIS membacakan pidato rutin tahunannya yang diselingi humor ringan. Pasti senang sekali rasanya bisa berdiri di depan khalayak yang begitu ramainya. Terlebih melihat binar mata calon mahasiswanya yang tampak antusias. Mereka enerjik, muda, dan seakan tanpa dosa di auditorium ini. Ah, maksudnya ‘kami’. Dan di tengah-tengah pidato itu, Ayah menyentuh tanganku. Tanda ia ingin bicara.

“Dengar nak, kamu masuk di kampus terbaik, di tempat terbaik di Indonesia. Di Jakarta. Manfaatkan ya.” katanya berbisik.

“Iya yah”

“Lalu bagaimana caranya kamu memanfaatkan status mahasiswa kamu?” Tanya Ayah menantang. Salah satu kebiasaan Ayah. Suka mengajak ngobrol di saat yang tidak tepat. Kupikir pidato Ketua STIS adalah pidato paripurna di kampus dan suatu kewajiban untuk mengambil sarinya. Tetapi Ayah selalu bisa mengalihkan perhatianku

“Belajar sebaik-baiknya supaya dapat nilai bagus. Gitu kan?”

“Haish. Ayah tak peduli dengan nilaimu. Bagus jelek nilai itu adalah definisi dari sekolah tempat kamu belajar. Kalau belajar dengan guru X maka kamu diberi nilai 100. Bisa saja kamu diberi nilai 50 oleh guru XXX dengan soal dan materi penguji yang sama. Artinya tidak menggambarkan kualitas kamu secara tepat.”

Baru sekarang Ayah bilang begitu. Setelah disuruh belajar mati-matian dari SD sampai SMA. Ya. Kalau aku Ibu, pasti sudah kusuruh Ayah malam ini tidur di sofa. Tetapi kami tidak memiliki sofa. Akhirnya terpaksa tidur di lantai

“Ayah memang tidak kuliah, tetapi yang Ayah tahu anak kuliah itu makhluk paling kritis, makhluk paling aktif, makhluk paling reaktif. Kalau sudah menyangkut mahasiswa seakan semua bisa terjadi sesuai kehendak mereka. Kamu bisa lihat sendiri sejarah bangsa kita,” lanjut Ayah.

“Maksud Ayah jadinya gimana?”

“Manfaatkan status mahasiswa kamu. Berbanggalah karena sekarang kamu ikut menjadi dinamo dari mesin penggerak yang namanya mahasiswa. Tugas kamu adalah ikut bagian dalam mesin ini. Jangan jadi dinamo mati. Ikutlah bergerak. Dengan terus bergerak dinamo bisa menjadi semakin baik dan baik. Meski dimasukkan ke dalam mesin mana pun”

Lalu tiba-tiba tepuk tangan bergemuruh dari seluruh ruangan auditorium. Semua calon mahasiswa dan wali bertepuk tangan berjemaah yang diimami pidato Ketua STIS. Ayah yang barusan tersenyum elegan setelah mengucapkan kalimat keren tersontak ikut tepuk tangan. Pidato sang Ketua STIS selesai bersamaan dengan petuah Ayah. Sempat kukira seluruh audiensi menguping Ayah lalu bertepuk tangan.

“Masih nggak ngerti yah,”

“Haish. Sudahlah…” Maka keluarlah ‘haish’-nya yang legendaris. Yang hanya diucapkannya pada saat momen ‘tepok jidat’

^^^

“Oy Sipit, cepat makan kau! Jangan jadi beban kelompok kau,” kata Kak Aisyah atau yang kami juluki Bidadari Berhati Syaitan Berlidah Ular. Kini aku yang menjadi mangsa terbarunya karena makanku yang lambat. Kaum lelaki maba (mahasiswa baru) bilang kena marah Kak Aisyah adalah anugerah terindah. Karena hanya dengan kena marah kita bisa berada di posisi terdekat dengannya.

Sejujurnya apa yang sedang kami lakukan benar-benar jauh dari apa yang kubayangkan. Di sinetron, mahasiswa digambarkan sebagai sosok yang bebas sebebas burung. Mereka berpakaian necis layaknya pergi ke mal. Mereka nongkrong di restoran mahal dan walaupun mereka berada di kampus, kerja mereka hanya berpacaran. Hidup mereka penuh canda tawa.

Dan di sini yang kulakukan merupakan antiklimaks. Aku duduk lesehan di lantai  sambil memegang kotak bekal. Rambutku turun derajat dari ‘rambut bersahaja anak muda’ jadi cuma sekedar ‘bulu’. Ditambah lagi kami diajari lagu-lagu fenomenal yang wajib dinyanyikan bahkan ketika kami hanya mau bangkit dari berdiri. Belakangan aku merasa lagu-lagu itu tertanam di benakku. Karena beberapa kali aku tanpa sadar menyanyikan ‘lagu berdiri’ saat mau berdiri. Menyedihkan.

“Yak, boleh duduk,” duduklah kami setelah bernyanyi sambil menari barusan. “STIS punya banyak kegiatan yang bisa kalian ikuti. Mulai dari kegiatan organisasi, olahraga, hingga seni. Jadi nggak ada alasan buat kalian di sini untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu. Berikut adalah presentasi dari masing-masing UKM yang ada di STIS. Boleh tepuk tangannya.”

“Prok… prok… prok…” (suara tepuk tangan tak bergairah nan kurang percaya diri)

Delegasi dari bidang dan UKM bergantian mempresentasikan bidang/UKM masing-masing. Macam-macam cara digunakan agar lebih ‘menjual’. Terlepas dari cara penyampaian mereka, aku terkesima dengan banyaknya ragam kegiatan di kampus STIS ini. Kukira karena status kepemerintahan yang disandang kegiatannya cuma latihan upacara dan diselingi baris berbaris tersinkronisasi harmonis yang terakumulasi plural. Nyatanya STIS bahkan punya klub bermain bridge dan klub nonton anime bareng. Wow!

Tak perlulah kujabarkan satu-satu apa saja bidang/UKM itu. Karena kalau bisa membaca sampai sini berari kau anak STIS. Sudah maklum bin mafhum tentang itu semua. Yang pasti tidak kau tahu adalah pada saat ini aku merasakan momen pencerahan.

Sekarang, kembalilah ke halaman sebelumnya. Cari dialog karakter Ayah di situ. Ketemu? Bagus. Di situ Ayahku menyinggung-nyinggung tentang dinamo kan? Waktu itu aku tak mengerti apa maksudnya untuk tidak menjadi dinamo mati. Namun kurasa aku mengerti sekarang,

Mungkin maksud Ayah agar tidak mengejar nilai akademik semata. Serap pengalaman sebanyak mungkin selama belajar di kampus ini dengan mengikuti kegiatan luar pelajaran yang bisa memperkaya kita. Karena kehidupan tidak berhenti hanya saat kuliah. Ada panggung berbeda menunggu kita di luar kampus. Panggung yang hanya orang-orang khusus saja yang dapat berbaur dan bermain.

“Sipit! Mulutnya dikatup!” semprot Kak Aisyah. Ternyata tadi aku melamun sambil menganga.

“Siap Kak!”

^^^

“Jadi udah ikut kegiatan apa aja sekarang nak?” Lagi, Ayah mengajak ngobrol di saat yang tidak tepat. Kali ini ia menelepon saat aku kebelet ke toilet. Tetapi mendengar suara sumringah Ayah rasa kebelet tadi menguap.

“Banyak yah. Sekarang sudah daftar senat mahasiswa, basket, futsal, voli, tenis meja, tenis lapangan, karate, tae kwon do, klub Bahasa Inggris, klub catur, koperasi mahasiswa, forum penelitian daaan jurnalis kampus.”

“Huebatt! Itu baru anak Ayah!”

Aku baru bilang daftar. Aku belum bilang kalau dari semua yang kudaftar tidak ada satupun yang menerimaku. Haish.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s