Cinta untuk Bahan Bakar Berkarya yang Baik

Kalau diumpamakan bahan bakar minyak, mungkin kekuatan cinta (jijik juga bilang ‘kekuatan cinta’) sebagai bahan bakar bagi kita untuk menulis memiliki nilai oktan di atas 100 yang artinya sangat baik untuk kesehatan mesin. Pertamax plus aja 95. Ah, lalu ada satu lagi bahan bakar untuk berkarya yang terbilang sangat efektif. Apa itu? Ke-galau-an. Sengaja saya pisahkan afiks dari kata ‘galau’ supaya lebih terasa rasa galaunya. Kalau dikonversikan lagi setara nilai oktan, nilainya ada di atas cinta. Tetapi saya nggak membicarakan bahan bakar galau sekarang. Cukuplah rasa galau itu mendekap dalam dada masing-masing.

Sewaktu blogwalking beberapa waktu lalu, saya mampir ke beberapa teman sejawat yang juga (kelihatannya) memiliki minat di menulis cerpen amat singkat dan puisi modern. Dan apa yang memacu saya untuk menulis ini adalah betapa luar biasanya karya-karya mereka. Banyak dari karya yang saya baca memiliki karakter kuat yang membedakannya dengan yang lain. Yang memiliki keindahan. Yang dengan permainan kata dan pelafalan kalimat yang diciptakan dapat menggerakkan otot leher orang lain untuk manggut-manggut takzim + setuju. Intinya satu karya yang kalau kita baca kita tahu karya semacam itu yang kita ingin nikmati. Sayang seperti kebanyakan karya-karya lain, entah itu musik-sastra-film-senirupa, tak banyak orang yang tahu kalau karya seperti itu wujud. Tak banyak.

Menariknya, banyak dari karya-karya luar biasa yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya membawa-bawa nama cinta. Minimal nyerempet lah. Entah itu tertulis dalam karyanya atau tergambar dari maknanya. Entah itu ia akui atau tidak akui. Dan cinta yang saya maksud bukan cinta romantis, melainkan cinta secara universal yang dirasakan terhadap apapun dan siapapun. Karena sudah baca sampai sejauh ini, coba baca puisi dan cerpen yang secara pribadi saya sukai ini…

Ini adalah contoh puisi sederhana dengan permainan kata ajaib. Cuma ada 6 bait yang tiap bait terdiri dari 2 baris (saya nggak tahu nama puisi yang satu baitnya 2 baris). Yang menarik adalah pemilihan katanya. Ingin-angan, curah-cerah, rusak-rasuk, lupa-luap, tanggal-tinggal dan diakhiri pertanyaan menguji iman. Selain menimbulkan rima indah tak berperi, pesan dalam yang ingin disampaikan penulis tersampaikan dengan jelas. Tidak seperti banyak jenis puisi yang mementingkan keindahan diksi sehingga melupakan makna dan tujuan dari puisinya. Puisi ‘Kita’ di atas konsisten, linier antara keindahan dan kedalaman makna. Keindahan dapat dengan mudah kita temukan dengan permainan kemiripan kata dan kedalaman makna dapat kita gali dari penghayatan kita akan pengalaman pribadi. Yang belum tentu dapat kita lakukan adalah proses dalam mencapai indahnya permainan kata dan cara menuangkannya dalam media. Inilah garis pembatas puisi bagus dan yang biasa. Tolong yang tahu rahasianya segera bongkar rahasia itu!

Dan coba lihat tags nya, ada kita-lupa-khilaf-cinta-palsu. Eh? CINTAAA

Puisi di atas dipengaruhi oleh cinta! (dan kelihatannya cinta romantis). Terlepas dari bakat/kemampuan yang penulis miliki, jelas rasa cinta memiliki andil dalam pembentukan suatu karya yang bagus.

Hiraukan penampilan paragraf dan dialognya yang kurang rapi karena yang terkandung di dalamnya sangat baik. Apa yang tergambar dalam cerpen singkat ini adalah suasana kental akan suatu keluarga. Ada ayah, ibu dan anak mereka yang kepolosannya beda tipis dengan kurangajar. Situasi dari cerpen ini rasanya nyata, tidak dibuat-buat dan tidak berlebihan. Yaitu adegan mandi (mohon jangan pikir yang tidak-tidak) sederhana. Yang membuatnya simpel tapi spesial adalah gaya penuturan cerita yang unik, dialog jujur, dan eksistensi penulis yang ditegaskan dalam tulisan dalam kurung yang menggelitik. Yap, simpel tapi spesial adalah kata yang tepat.

Dan lagi-lagi, ada cinta berperan di belakang layar. Walaupun tidak tertulis langsung, saya yakin benar penulis yang ngakunya sedang ‘kangen rumah’ ini cinta berat dengan keluarganya. Bahkan hingga tertuang menjadi cerpen. Tidak mungkin ia bisa menulis cerpen ini tanpa fondasi cinta keluarga yang kuat.

Yang saya tunjukkan cuma 2, tapi saya rasa cukuplah untuk mewakili bahwa cinta memiliki kekuatan yang luar biasa dalam kita berkarya. Menjadi energi kita dalam berkarya. Menjadi nutrisi hati kita hingga menjadi perasa yang lebih baik. Mungkin kegalauan bisa membuat kita jadi semakin produktif, tapi kegalauan rasanya pahit  sedangkan cinta itu manis. Harus ngerasain yang nggak enak dulu baru bisa produktif. Kalau manis kan enak. Jadi cintailah yang kita lakukan dan lakukanlah karena cinta. Setuju?

 

02.52

dengan cinta kental

Advertisements

11 comments

  1. nulisnya harus dinihari banget, ya Kak? 😀
    by the waaaaay saya setuju banget kalau cinta itu bahan bakar yang paling efisien. nggak cuma buat nulis aja sih, semuanya. tapi timbul pertanyaan nih: semisal tentang sesuatu yang nggak kita sukai tapi wajib kita tulisin. Apa iya nulisnya juga harus tetep pake cinta? 🙂

    Like

    1. duh, pertanyaan begini. Pengalaman saya di nulis baru setitik rur, udah ditanyain begini aja haha…
      Misal seperti ngerjain soal UAS gitu yah? Nggak disukai, tapi wajib kita tulisin. Kalau emg gitu saya pinjem pepatah Jawa aja, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Jadi semakin sering kita latihan soal, (siapa tahu) cinta ngerjain soal UAS muncul sendirinya hehe…

      Tapi yang namanya kewajiban ya mutlak harus kita kerjakan, terlepas kita suka atau nggak. Maksud cinta di sini sebagai sumber inspirasi/motivasi gitu lho. Biasanya hasilnya akan jauh lebih bagus karena kita mengerjakan apa yang kita sukai … *sokbijak

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s