Hanya dengan Dukungan Kontinu

Sebagai fanatik Liverpool, tentu saya tahu quote terkenal ini:

If you can’t support us when we lose or draw, don’t support us when we win

Terlepas dari kontroversi apakah Bill Shankly benar-benar pernah mengatakan itu atau tidak, selama bertahun-tahun saya mengagumi kalimat itu. Meneriaki orang lain yang menjelek-jelekkan Livepool kalimat itu sebagai kalimat pembelaan. Bukti bahwa saya, atau kami, adalah fans sejati dan bukan abal-abal yang tiap minggu gonta ganti klub favorit.

If you can’t support us when we lose or draw, don’t support us when we win. Dengan mengingat kalimat itu adalah suatu kebanggan bagi saya dapat berdiri di belakang Liverpool saat ia tinggi maupun rendah. Kalimat itu seperti mantra pelet mujarab yang tidak bisa lepas dari saya. Saya yakin fans sejati klub mana pun akan terenyuh hatinya saat membaca kalimat motivasi itu. Apalagi kalau klub kecintaanya sering seri atau kalah (boleh kalau pembaca menafsirkan Liverpool), maka makna kalimat itu akan semakin dalam.

Sayangnya seminggu yang lalu saya kehilangan makna itu -_-

Di malam pertandingan Liverpool vs Sunderland, pikiran saya sedang kacau. Kemungkinan karena tugas kuliah yang walaupun banyak, tetapi hanya saya pikirkan (jangan ditiru). Sehingga pada saat itu kondisi mental saya sedang tidak stabil. Berlebihan memang. Tetapi saya tetap ingat bahwa malam itu ada pertandingan Liverpool. Melawan tim yang beberapa tahun belakangan selalu jantungan karena tipis berada di jurang degradasi, Sunderland. Merasa tidak mau rugi, saya tetap maksa nonton. Biarlah tugas kuliah menunggu. Barangkali moral saya terangkat dengan melihat suka cita di Anfield yang merayakan kemenangan

Tetapi naas, apa yang terjadi di lapangan sangat kontras dengan apa yang saya prediksi. Dapatlah saya katakan Sunderland klub dengan permainan medioker. Saya pikir dapat dengan mudah dikalahkan. Tetapi Liverpool kesulitan mengembangkan permainan mereka. Sering salah oper, penyerangan payah, garis pertahanan terlalu tinggi dan mudah diterobos. Ditambah lagi pergerakan non bola banyak pemain kurang efektif. Menonton permainan seperti itu malahan membuat emosi saya semakin tidak terkontrol. Untungnya permainan Sunderland lebih payah, jadi gawang Liverpool masih tetap aman. Tetapi serius saja. Permainan jadi tidak enak ditonton.

Pada akhirnya permainan berakhir dengan skor 2-2. Keempat gol berasal dari pertahanan payah kedua tim.Kalau melihat dari skor saja, bukan hasil yang buruk memang, namun permainan yang buruk yang membuat saya stress. TV saya yang jadi korban pelampiasannya. Saya ingat beberapa kali memarahi TV tua kami. Maaf ya…

Sejak saat itu (yang ternyata cuma seminggu), saya memutuskan nggak mau menonton atau mengamati perkembangan Liverpool. Sudah trauma menonton cara permainan yang diperagakan seperti melawan Sunderland. Saya berpikir daripada saya marah-marah lebih baik saya menutup mata. Biarlah saya tinggal sementara kehidupan mini-hooligan saya.

Sampai tadi malam, saya masih ngambekan saat Liverpool melawan Aston Villa. Masih menghindari aktivitas yang berbau Liverpool. Untung saja malam itu ada pertemuan komunitas buku yang saya ikuti. Setidaknya saya bisa lupa sejenak pertandingan malam ini dengan ikut ngumpul gosipin buku pikir saya. Sepulang pertemuan itu saya menyesal…

Liverpool ternyata menang 6-0! Bahkan itu terjadi di kandang Aston Villa. Keenam gol tersebut dicetak oleh 6 orang berbeda. WOW! Sudah lama sejak terakhir kali Liverpool menang besar. Seandainya saya menonton pasti saya sudah tidak sengaja salto. Tidak sengaja karena saya yang nggak bisa salto jadi bisa salto saking girangnya. Setelah saya cari tahu, ternyata Coutinho, Sturridge bahkan Origi sudah kembali bermain dari cederanya. Jelas pemain-pemin itu membawa perubahan di Liverpool. Terkhusus Coutinho dan Sturridge yang sudah diakui banyak orang memiliki kualitas jempolan.

Rugi! Mengapa saya pernah janji nggak mau nonton ya? If you can’t support us when we lose or draw, don’t support us when we win. Padahal jelas-jelas berulang kali saya nasehatin orang pakai kalimat itu. Malah saya sendiri yang nggak bisa dukung klub sewaktu susah. Alhasil saya nggak dapat kebahagiaan kemenangan. Entah apa namanya ini. Karma? Terlepas dari itu semua, saya tetap bangga dengan Liverpool. Ada semacam rasa cinta, yang walaupun sakit tetapi bikin ketagihan…

 

*oh ya, kalau cinta diterapkan di banyak hal baik, kebayang gimana hasilnya? 🙂

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s