Begadang

Belakangan terjadi perubahan gaya hidup yang cukup signifikan pada hidup saya. Akibat tugas kuliah menggunung ditambah segala urusan hidup lain yang harus terus berjalan, saya terpaksa meminimumkan jam tidur saya menjadi hampir nol. Begadang to its maximum level alias nggak tidur sama sekali sepanjang malam. Menjalani 3 fase dari sepertiga malam dengan mata terjaga. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan selama ini.

Saya sendiri tergolong telat memulai gaya hidup ini. Baru dilaksanakan pada tingkat 3. Padahal kurikulum STIS mengarahkan mahasiswanya untuk mengikuti pola tidur minimal sejak semester 1 nya. Sudahlah dihantui DO, sks yang jumlahnya selangit, tugas nya nggak tanggung-tanggung pula. Saya dilanda stress berat sewaktu pertama masuk. Efek ke fisiknya segera terasa. Enam bulan pertama berat badan turun 13 kg -_-

Tapi seperti yang saya katakan, tak sekalipun saya mencoba begadang yang benar-benar tidak tidur hingga pagi, baik untuk tujuan baik, semi-baik, atau yang sekedar untuk senang-senang. Paling banter selama ini cuma men-delay jam tidur hingga jam 12 malam. Itu pun seringnya karena Liverpool lagi main dan belum terlalu mengantuk. Toh saya orangnya tidak tahan kantukan. Kalau mengantuk, ya tidur. Nggak ditunda-tunda lagi atau memforsir daya kerja tubuh. Bagi saya, tubuhlah yang paling mengerti kapan sebenarnya kita butuh istirahat dan kapan untuk bekerja. Mematuhi pertanda yang diberikan tubuh ini adalah mutlak. Setidaknya itu yang saya pegang hingga beberapa hari yang lalu.

Kembali ke awal tadi, gunungan tugas paper, presentasi, review jurnal, nyuci, ngeles, rapat, semua itu memaksa saya mengoposisi idealisme sendiri. Mau nggak mau akhirnya begadang. Dan kerennya langsung coba nggak tidur semalaman.

1d39252cd448470804699d554e3460b61007351978e8119d6e39d68c1f43c6b6_1

Berikut adalah efek-efek yang saya rasakan akibat begadang:

  1. Menguap Tak Terkendali

Menguap sih wajar-wajar saja. Toh bengong aja bisa bikin menguap. Nah, kalau begadang beda lagi ceritanya. Saya bisa menguap terus-terusan sepanjang hari (atau malam). Mungkin semenit bisa lebih dari 3 kali. Kalau sekedar menguap biasa sih

Parahnya menguap ini juga mengeluarkan air mata. Semakin sering menguap, maka semakin basah dan bengkaklah mata kita. Dan ini yang dapat mengungdang simpati dari orang sekitar, karena dikira kita baru saja menangis. Eh tapi lumayan juga sih. Sewaktu kuliah setelah begadang semalaman kemarinnya, banyak yang nanyain dengan manisnya, “Habis nangis kenapa?” Jarang-jarang diperhatikan seperti itu. Hehe

2. Pusing

Sekali. Banget. Luar biasa. Rasanya kepala ini disuntik air yang membuat otak kita semakin berat. Kalau leher digoyang ke kanan, seperti ada gempa. Kalau digoyang ke kiri, tiba-tiba ada tsunami. Bahkan saya sempat mengetesnya dengan bejalan lurus, dan jadinya trek jalan saya makin lama makin jauh menyimpang! Sudah seperti orang mabuk.

3. Sulit Fokus

Betapa menderitanya kalau sehabis begadang dilanjutkan dengan kuliah, yang notabenenya membutuhkan kekuatan konsentrasi maksimal. Kata-kata yang diucapkan dosen mengawang begitu saja. Tarafnya bukan lagi masuk telinga kiri keluar telinga kanan tapi tidak bisa masuk telinga sama sekali. Apa lagi yang diharapkan? Sudahlah kepala berat, bisa menegakkan kepala dengan benar saja sudah syukur. Yang ada di pikiran saya adalah bagaimana caranya saya menemukan posisi duduk terbaik, tapi tetap kelihatan terpelajar dan memperhatikan agar dosen tidak minta yang macam-macam. Untung waktu kuliah sehabis begadang itu dosennya tenggelam dalam pada materinya sendiri. Lolos lah saya dari hukuman sosial depan publik.

Belum lagi pas diajak ngobrol. Saya nggak ingat lagi apa yang dibicarain waktu itu. Rasanya kayak ngigau. Moga yang ngajak ngobrol mengerti kondisi saya yang lemah tak berdaya

4. Panda yang Keletihan

Lingkaran hitam sudah pasti, lalu ditambah lagi mata yang sangat sayu, kita jadi terlihat seperti panda yang kelelahan. Itu untuk orang yang berpipi tembem sih. Yang kurusan, mungkin seperti zombie yang sedang kena anemia

5. Rasanya Ngangtuk, tapi Tidak Bisa Tidur

Ini nih yang bikin dilemma. Badan sudah lelah, pikiran jenuh, kepala pusing, menguap tak terhitung, tapi anehnya malah tidak bisa tidur. Saya merasakan ini di siang harinya setelah begadang. Amat sangat tersiksa. Logikanya, kalau capek dan ngantuk, ya tidur. Ini malah tidak bisa -_-

Mungkin tubuh kita menganggap waktu itu kita masih dalam mode aktivitas biasa karena sebelum-sebelumnya kita masih beraktivitas normal. Jadi belum ‘diizinkan’ tidur. Padahal sudah bela-belain sembunyi supaya nggak ketahuan tidur. Ujung-ujungnya malah nggak bisa tidur

Yang saya yakini, ini bukan terakhir kalinya begadang semalaman. Akan ada Begadang 2, Begadang (lagi), Begadang: Resurrection, atau mungkin Begadang Forever

sumber gambar: http://img.ifcdn.com/images/1d39252cd448470804699d554e3460b61007351978e8119d6e39d68c1f43c6b6_1.gif

 

Advertisements

6 comments

    1. Ada beberapa syarat untuk D.O di STIS lewat IP pak…
      Untuk IP minimal 2.00. IP mata kuliah inti minimal C dan non inti minimal D

      Tiap tahun biasanya banyak orang kena D.O terkendala dengan syarat yang kedua itu

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s