Gojek dari Mata Ini

Walaupun Gojek sudah terbilang lama mengorbit di bumi Jabodetabek, baru minggu lalu saya mencoba jasa ini. Dari namanya sudah ketahuan kalau ini tetaplah ojek. Secara fisik sih sama saja dengan ojek yang ada selama ini. Taksi merek honda/yamaha/suzuki beroda dua. Hanya saja mereka punya sistem yang membedakannya dengan definisi ‘ojek’ yang selama ini kita kenal. Mereka terstruktur, berkomplot, memiliki sistem terpusat dengan jaringan komunikasi masa kini (masa kini karena saya tak berani bilang mutakhir, hehe)

Tidak seperti ojek biasa di mana pelanggan yang harus mendatangi sang pengendara, dengan gojek, pengendaranya lah yang mendatangi pelanggan. Bagaimana bisa? System my friend, system. Memanfaatkan teknologi Android, Satellite Maps, GPS dan lainnya, gojek memungkinkan pelanggan menemukan pengendaranya hanya dengan sentuhan jari. Tanpa perlu beranjak dari tempat ia berdiri atau duduk. Jadi begini. Asumsikan pengendara gojek sudah tersebar di lingkungan sekitar kita. Katakanlah dalam radius 10 km. Saat kita membutuhkan gojek dan memanggilnya lewat aplikasi android, secara otomatis gadget kita mengirimkan sinyal (semacam S.O.S. begitulah) yang akan ditangkap oleh pengendara gojek sekitar kita. Pengendara gojek tersebut akan membaca sinyal kita dari gadget miliknya. Kemudian dari sekian banyak pengendara gojek yang membaca sinyal kita tersebut, akan ada satu pengendara tercepat yang ‘membooking’ kita. Mungkin mereka rebutan untuk menjadi yang pertama mendapatkan sinyal kita. Nah, bila sudah disetujui, pengendara gojek terpilih akan segera meluncur ke tempat sinyal kita berasal. Gadget kita menyediakan nomor telpon untuk dihubungi. Jadi tidak hanya mengandalkan GPS. Apabila sudah dekat, biasanya pengendara gojek akan menghubungi kita untuk memastikan tempat janjian kita (ciee…) Biasanya sih nggak perlu nunggu lama untuk seorang pengendara gojek menjemput kita. Paling lama 15 menit lah sejak kita memesan gojek via android

Yang hebat dari sistem gojek ini adalah ia bisa memangkas biaya bahan bakar secara signifikan. Jarak 0-15 km hanya membayar 15k! Yah tarif ini masih terhitung promo sih, tapi tetap lebih murah dibanding ojek biasa kan. Bagaimana bisa? Jadi begini…

Dalam ojek konvensional/biasa, umumnya mereka memiliki sebuah markas atau base atau assembly point (baca: pangkalan) tempat ojek berkumpul menunggu pelanggan. Pelanggan tinggal mendatangi markas ini lalu diantar ke tempat tujuan. Pengendara ojek ini kemudian harus kembali ke pangkalannya untuk mendapatkan pelangga berikutnya. Artinya ia harus melakukan perjalanan pulang pergi untuk setiap pelanggan yang ia antar. Jadi, katakanlah biaya ojek yang harus saya bayar saat saya naik ojek dari Kampung Melayu menuju Mangga Dua adalah 50k. Itu bisa diartikan kita membayar 25k bensin untuk pergi dan 25k sisanya untuk perjalanan pulang si pengendara ojek (mungkin). Berbeda dengan gojek yang mengandalkan GPS untuk mendapatkan pelanggan, ia bisa terus bergerak sambil mencari pelanggan. Tanpa harus menempuh perjalanan balik ke markas tiap selesai mengantar pelanggan. Sampai artikel ini diterbitkan, tarif gojek adalah 15k untuk 15 km pertama dan 2500k/km untuk km selanjutnya. Jadi dengan jarak 22 km dari Kampung Melayu menuju Mangga Dua kita cukup membayar 32.5k. Belum lagi kalau pengendara ojek biasa senewen dan seenaknya menaikkan tarifnya menjadi jauh lebih tinggi. Yah kita memang tidak tahu berhubung tidak ada acuan atau mungkin perjanjian terlebih dahulu. Jadi keputusan harga ada di tangan pengendara dan kita tak bisa berbuat apa-apa. Kalau gojek biayanya sudah fix. Tertera di aplikasi saat kita memesannya. Lebih murah dan reliable kan?

Menjadi pengendara gojek pun dihitung-hitung lebih menguntungkan dibanding ojek konvensional. Sebagai ilustrasi, misalkan saya adalah pengendara gojek dan sedang berada di Kampung Melayu (viva Malay Village!). Kebetulan di tempat saya berada saya mendapatkan pelanggan yang ingin menuju Pasar Senen. Maka berangkatlah saya ke Pasar Senen. Saya pun dibayar 15k karena jaraknya kurang dari 15 km. Setelah itu secara kebetulan ada pelanggan yang memancarkan sinyal dari Atrium Senen. Secepat kilat saya merespon sinyal itu untuk memastikan pelanggan itu menjadi milik saya. Pelanggan tersebut ternyata ingin pergi ke Mangga Dua dan biaya menuju Mangga Dua adalah 15k. Maka secara total, dari Kampung Melayu ke Mangga Dua, saya dibayar 30k bersih tanpa perlu membayar biaya bensin untuk pulang. Dibanding ojek biasa yang ‘hanya’ dibayar 25k (setelah diakumulasikan perjalanan pulang) ini tentu saja jauh lebih menguntungkan. Belum lagi adanya kesempatan untuk bertemu pelanggan baru ketika berada di Mangga Dua. Mungkin hasil hitung-hitungan saya terlalu naif dan mungkin juga salah. Tapi yang ditawarkan gojek kepada pengendara gojeknya adalah kemungkinan tak terbatas untuk bertemu pelanggan. Dengan bantuan kemajuan teknologi, akan lebih mudah untuk mendapatkan pelanggan yang membutuhkan jasa ojek. Satu hal yang saya takutkan apabila saya menjadi pengendara gojek, terdapat kemungkinan para pelanggan berantai ini membawa saya dari Jakarta hingga Bali. Karena satu pelanggan akan membawa saya ke tempat A dan pelanggan dari tempat A akan membawa saya ke tempat B. Begitu seterusnya sampai Bali hingga saya tak bisa pulang

Untuk pelayanan sih saya tidak bisa bercerita banyak karena yang saya rasakan sama saja dengan ojek biasa. Kalau pas dapat pengendara yang ramah ya syukur, kalau dapat yang jutek rasanya jadi pengen cepat-cepat turun. Ada pengendara yang dikit-dikit ngebut, ada yang ngebutnya cuma dikit-dikit. Biasa lah. Namanya juga sama-sama manusia. Beraneka ragam tabiatnya

Mungkin ini yang mengakibatkan menjamurnya ‘karyawan’ gojek dan reputasi yang dimiliki gojek sekarang. Bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi, gojek bagaikan embun penyejuk dalam kehausan (referensi hymne guru hehe). Sedangkan bagi tukang ojek biasa, gojek adalah si kancil anak nakal yang suka mencuri mentimun, atau dalam hal ini pelanggan.

 

22.53

Di tengah tugas yang menumpuk, tapi tetap maksa bikin tulisan

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s