Panic at the Busway

“Jam 3 sore ya mas, di tempat kemarin. On time, soalnya saya ada keperluan lain.”

Garista menatap malas ke hp nya. Yang ia baru saja baca adalah deklarasi perjanjian untuk kopi darat dengan Kang Fadel, narasumber yang ia temui tempo hari. Tempat kemarin yang dimaksud adalah tempat terjauh yang pernah dikunjunginya selama ini. Mengapa Garista harus berlelah-lelah melintasi belasan kilo plus kemacetan bak naga Jakarta? Karena itu sudah menjadi tugasnya atau lebih tepatnya ia merasa itu sudah menjadi tugasnya. Ia merasa seperti itu karena rasa egois yang ia anggap baik. Egois seperti saat kita mengerjakan tugas sendirian walau seharusnya dikerjakan dalam tim.

Dan akhirnya berangkatlah ia. Di depan pintu ia bersyukur secara sarkastik karena hari itu cuaca terasa sangat panas dan ia bersikeras untuk tetap memakai jaket. Jaket itu kebanggaannya. Ia merasa kelemahannya tertutupi bersamaan dengan dikancingnya jaket kebanggaannya itu. Alhasil keringat mengucur. Tak apalah, pikirnya. Yang penting ia punya kekuatan tambahan menghadapi narasumbernya kali ini. Saat itu ia tidak memikirkan kode etik jurnalistik no. 52 ciptaannya sendiri. Pewawancara tak boleh menunjukkan diri dengan ketiak basah di depan narasumber.

Apa moda transportasi agar bisa bertemu Kang Fadel? Garista memilih busway. Ah, bukan memilih. Karena ia tak punya pilihan lain. Mahasiswa pas-pasan sepertinya tak pernah punya banyak opsi bila itu terkait dengan uang. Kekuatan finansial yang membatasi pilihannya. Untungnya ia suka naik busway. Lalu Garista adalah salah satu dari jutaan orang yang menyebut armada transjakarta dengan ‘busway’ sebagai nama resminya. Baginya naik transjakarta atau naik busway sama saja, karena memang penumpangnya berada di atas transjakarta yang berada di atas busway.

Ada banyak kekurangan bila kita bepergian dengan busway. Pertama, kita harus bayar Rp 3500. Kedua, kita harus berpura-pura menjadi warga negara yang toleran selama di busway. Ketiga, kita tidak diantar langsung ke tempat tujuan. Kira-kira ini kekurangan yang ada di pikiran Garista. Tapi tadi disebutkan bahwa ia suka naik busway. Artinya ada lebih banyak keuntungan dibanding kerugiannya. Pertama, kita cuma bayar Rp 3500. Kedua, kita akan dikira warga negara toleran selama di busway. Ketiga, kita bisa jalan-jalan lebih banyak karena tidak diantar langsung ke tempat tujuan. Keempat, ia suka naik busway.

Sudah jam 2 lewat 27 menit dan sudah 1 jam ia berada di busway. Ia belum juga sampai setengah jalan. Garista pun cemas. Ia optimis tidak akan sampai tempat waktu. Pikirannya mulai mereka-reka skenario kedatangan telatnya. Macet luar binasa karena ada kebakaran, salah naik busway, atau terpaksa berlari mengejar penjambret yang ternyata atlet maraton sehingga Garista tak mampu mengejarnya dan akhirnya tersesat. Tak diduga buah pikirannya jadi kenyataan. Bukan, bukan penjambret jago maraton. Bagaimana mungkin skenario macam itu wujud menjadi kenyataan? Garista salah naik busway. Untungnya ia tidak sadar sehingga ia tidak panik. Ia baru sadar dan panik ketika busway yang ia naiki semakin jauh dari tujuan semula. Lebih parahnya ia tak tahu mengarah ke mana ia sekarang. Di tengah kepanikannya, Garista berharap andai saja ia tak tahu kalau ia salah naik busway. Dengan begitu ia tak panik, dan tersesat dengan tenangnya.

“Di mana?”

Kang Fadel kembali meneror. Garista tak pernah sebimbang itu saat melihat layar hp. Entah apa yang akan ia lakukan. Ia berpikir untuk turun dari busway, melompat kalau perlu, lalu memesan Gojek yang akan mengantarnya hingga tujuan. Tapi ia urungkan karena tak ingin mengeluarkan uang lebih. Rp 3500 untuk sekali jalan adalah bujet maksimalnya. Bila ia batalkan, terbitnya buletin kampus akan telat beberapa hari cuma karenanya. Garista akan jadi bahan bincang seluruh jajaran pers kampus, kehilangan kredibilitas, akhirnya tak punya kawan. Kerja kerasnya untuk sekedar masuk ke pers kampus menguap seakan tak ada guna. Begitulah pikir Garista. Berlebihan memang. Terima saja

Garista terpaksa membatalkan

“Kang, lagi di mana sekarang kang? Sudah berangkat? Ooohh, gini Kang. Tadinya saya…”

Di saat itulah matanya terbelalak. Secara ajaib jendela busway menampilkan pemandangan mengharukan. Garista melihat dirinya telah sampai di tujuannya. Apa supir busway ini mengambil jalan memutar? Atau jangan-jangan supir busway ini malaikat yang menyamar? Berlebihan memang. Terima saja.

“Ehh, nganu kang, ingat janji saya kemarin? I’ll be back!”

 

Jakarta, 11 Januari 2016

20.02

Ditemani hujan yang pemalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s