Mana yang Mahal?

Di sore senin yang tawar kemarin, ada pelajaran rasioinal yang sulit untuk dilupakan…

Layaknya senin sore yang lain, senin sore kemarin diisi kegiatan yang mengikuti senin sore minggu lalu, dua minggu lalu, sebulan lalu, atau bahkan setahun yang lalu. Kajian fiqh. Kegiatan mengaji rutin membahas hukum dari Sang Khalik. Tema yang dibahas kemarin adalah tentang jual beli. Namun mungkin karena keasyikan, pematerinya jadi keluar jalur. Sampai membahas cara berburu dengan menggunakan anjing pemburu segala -_- (diatur dalam Al-Qur’an juga lho)

Tak dinyana, malah dari pembicaraan out-of-topic itu sendiri aku mendapatkan rasionalitas berfaedah itu. Ust. Ilyas, sang pemateri, bercerita tentang temannya yang dulu tinggal di Amerika. Sebut saja A. A punya hobi mengoleksi sekaligus jual beli wine. Tau kan wine? Alkohol dari fermentasi anggur itu loh. Jangan tanya lagi status keharamannya. Dan tentu saja menjual dan membeli benda haram haram pula statusnya. Nah, koleksi A sudah cukup beragam. Ia pun sudah mengelularkan uang yang tidak sedikit untuk kecintaannya tersebut. Katanya salah satu koleksinya bernilai $10000 atau kalau mengikuti kurs sekarang berarti kurang lebih bernilai 140 juta rupiah. Satu botol 140 juta! Kalau beli botol sirup Marjan rasa cocopandan bisa beli lebih dari 8 ribu botol. Belum lagi sirup Marjan rasa lain, atau sirup merk lain rasa cocopandan. Intinya $10000 angka luar biasa untuk suatu koleksi. Lalu keluarlah kata-kata itu…

Masuk neraka itu mahal!

Plain and simple, but it is profounding. Bener juga

Ambil contoh mau bikin dosa dengan alkohol. Tau sendiri minuman beralkohol harganya seperti apa. Jauh lebih mahal dari sebotol sirup Marjan rasa cocopandan (aku suka sekali sirup ini). Dan lagi alkohol menimbulkan adiksi. Penagih alkohol mesti punya duit banyak untuk memuaskan ketagihannya. Mahal kan?

Lalu judi. Ada berapa banyak orang yang jadi kaya karena judi? Memang ada peluang untuk meraih uang tak halal dari hasil judi. Baik kecil atau besar. Oleh karena itu judi dikatakan menjanjikan kemenangan dan kekayaan. Meminjam kata Bang Rhoma, sekalipun kau kaya karena judi, sesungguhnya itu awal dari kemiskinan. Mungkin perlu mengeluarkan banyak uang untuk mencoba dan mencoba hingga akhirnya menang, dapat uang dan kemudian langsung habis lagi. Terus seperti itu. Pada akhirnya input jauh lebih besar dari output. Mahal kan?

“Lebih enak masuk surga, murah meriah.” Nah, ini yang betul. Nggak ada ibadah yang mengharuskan mengeluarkan banyak uang alias mahal. Shalat, dzikir, doa, mengaji, senyum, sapa, bahkan mengambil paku dari jalan. Semua gratis. Lalu haji yang katanya mahal? Haji kan wajib dilakukan bagi yang mampu. Jadi maksud di sini mahal relatif. Iya bagi yang tidak mampu mahal, tapi bagi yang memiliki kekayaan? Sesungguhnya kita sudah diberi segala kemudahan. Dan segala sesuatunya sudah diatur supaya kita tak merasa kesulitan.

Manusia itu makhluk rasional. Semoga dengan mengingat rasionalitas ini kita dapat semakin mendekatkan diri dengan Allah SWT

Advertisements

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s