Goenawan

Pernah ada lelucon pahit. Seseorang yang setelah 17 Agustus 1945 nasibnya tak jadi lebih baik, bahkan memburuk, bertanya: “Kapan merdeka selesai?” Jika kita lihat “merdeka” adalah sebuah laku, pertanyaan itu tak akan ada. Sebab laku itu—yang berlangsung dalam sejarah sebagai proses—tak punya titik yang tetap di depan untuk dituju. Titik itu, untuk jeda, harus tiap kali diputuskan kembali.

Majalah Tempo Edisi Kamis, 16 Agustus 2012 dalam Origami

Nah, itu tadi sudut pandang seorang Goenawan Muhammad akan arti merdeka dalam salah satu Caping-nya. Seperti biasa, membaca GM (banyak orang menyingkat begitu) sama saja diajak berdiskusi. Bukan diskusi ringan yang hanya teringat sepintas lalu. Namun diskusi dalam, yang membuat kita merasa sebagai filosofis. Sebuah karya yang meletakkan keimanan kita terhadap sesuatu di batas keraguan. Membuat pembaca mempertanyakan apa yang ia percayai selama ini selagi mencerna pemikirannya.

Saya mengagumi Goenawan hanya dengan membaca satu kalimat karyanya

Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?

Tentu. Itu dari Dingin Tak Tercatat. Kalimat itu saya artikan sebagai luapan euforia yang menggejolak yang Goenawan rasakan. Yang hebat adalah cara ia mengekspresikannya. Bagaimana ia mempertanyakan kodrat manusia sembari bersyukur atas nikmat Allah. Sebagaimana dekatnya Allah SWT senantiasa memelihara kira, seperti itulah kalimat itu menggugah saya.

Satu hal yang sangat mengagetkan saya adalah bagaimana seorang Goenawan Muhammad aktif dalam meliberalkan Islam di Indonesia. Memang selama ini ia terkenal dengan seringnya ia menelurkan karya yang berkenaan dengan ketuhanan. Misalnya dalam caping Tentang Atheisme Dan Tuhan Yang Tak Harus Ada. Di situ ia menelaah dari mana lahirnya atheisme dan bagaimanakah peran atheis di dunia. Ia mengeksporasi cara kerja atheis yang kemudian menyerang paham tersebut. Tetapi perlu digarisbawahi akan minatnya tersebut akan konsep ketuhanan. Walaupun kesannya menyerang atheis, tetapi dengan teknis jurnalismenya ia secara konstan menuliskan tema-tema kebimbangan akan Tuhan. Pada akhirnya akan ada banyak yang tersesat dalam memahami tulisannya dan bahkan hilang, lalu memuja atheis.

Dan perannya tersebut dalam JIL tidak main-main. Ia dikatakan sebagai penyedia dana rutin bagi JIL. Atau ketikia ia dikatakan memfasilitasi aktivis liberal lewat Radio 68H yang dengan begitu paham liberal akan semakin meluas. Masih ada banyak lagi kemungkinan yang belum terekspos. Menggunakan posisinya yang menduduki kursi jurnalistik tertinggi untuk menginfus pemikirannya akan liberalisme. Ini ancaman serius. Mengingat bagaimana kuatnya suatu tulisan untuk melakukan perubahan. Ambil contoh:

Tak kalah merisaukan: orang Jawa, Bali, Papua, dan lain-lain, yang berjualan di pasar atau lari pagi di jalan, harus “berbusana” menurut selera dan nilai-nilai “RUU Porno”. Kalau tidak, mereka akan dihukum karena berjualan di pasar dan lari pagi tidak “berkaitan dengan pelaksanaan ritus keagamaan atau kepercayaan”.  …

Walhasil, silakan memilih:
A. Indonesia yang kita kenal, republik dengan keragaman tak terduga-duga, atau
B. Sebuah negeri baru, hasil “RUU Porno”, yang mirip gurun pasir: kering dan monoton, kering dari kreativitas.

7 Maret 2006 (RUU Porno: Arab atau Indonesia)

Tulisan tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi penting kaum Hindu di Bali dan para penentang RUU APP lainnya dalam menolak keras RUU tersebut

Mengapa harus Goenawan Muhammad? Mengapa harus orang dengan prestasi dan teknik jurnalisme luar biasa berpihak pada JIL? Saya takut ketika saya membaca GM. Takut tulisannya menemukan celah dalam pikir saya lalu mengambil alih kepercayaan saya. Walau bagaimanapun, di luar konteks itu, saya tetap mengaguminya sebagai penulis. Kritis, menohok, tajam mengiris benak pembaca. Sisi positif. Itulah yang akan saya curi darinya.

Sebagai referensi:

Cara Goenawan Mohamad Jualan Marxisme dan Merusak Agama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s