Sepeda Baja Hitam

Atau judulnya bisa juga Gemertak Gir Sepeda Biru 2, Gemertak Gir Sepeda Biru II, Gemertak Gir Sepeda Biru 2.0, Gemertak Gir Sepeda Biru Bagian 2, atau Gemertak Gir Sepeda Biru: Sepeda Baja Hitam

Terserah. Karena catatan ini adalah kelanjutan postingan yang itu

Alkisah gemertak gir dari sepeda biru yang kemarin makin menjadi-jadi. Kayuhannya makin berat, gemertak giginya makin keras, dan sekarang ada bunyi ngilu yang keluar dari stang bila stangnya dibelokkan kanan-kiri. Kelihatannya sang suami menimbulkan masalah lagi atau masakan istri makin tidak enak. Bahkan mungkin suami mogok kerja dan istri mogok masak sekarang (baca: Gemertak Gir Sepeda Biru). Nah aku mengatakan yang sejujurnya tentang seberapa senang aku dengan sepeda biru waktu itu. Hambatan dari gir dan lain lain tetek bengek itu kuanggap ujian. Selain ujian, ada alasan lain mengapa aku enggan balik lagi ke Bang Abubakar untuk melaporkan masalah sepeda. Rasa segan. Aku segan sekaligus malu untuk bilang masalah mengendap dari sepeda birunya

Rasa segan terbukti adalah hal buruk. Segan adalah kelemahan. Segan adalah berbohong kepada diri sendiri dan tidak terus terang kepada orang lain. Segan sering dilakukan di tempat yang salah. Berbeda dengan malu. Berdasarkan teori-teori tadi aku mengesampingkan segala rasa segan yang tadinya menumpuk. Dan aku puas!

Segeralah kutelpon Bang Abubakar tentang masalah sepedanya sekaligus mengajukan tawaran untuk menukarnya (lagi) dengan sepeda yang satunya, Grenio Hitam. Aku sudah merancang kalimat yang kira-kira pas untuk membuka permasalahan ini. Untuk merespon jawaban dari Bang Abubakar? Masa bodoh. Aku tak berani menebak akan sejutek apa nantinya dia di telepon. Mungkin kalau dianya sudah jutek tingkat naga aku akan tutup langsung teleponnya. Daripada boros pulsa. Aku akan mengandalkan improvisasi untuk membalas responnya, seburuk apapun kemungkinannya

Namun tak dinyana, Bang Abubakar malah merespon baik di telpon. Ia minta maaf dan lagi-lagi menyatakan ketidakenakannya. Ia menerima tawaranku untuk menukar jadi Grenio Hitam. “Itu kalo mas gak keberatan, hehe.” Gak bakal Bang. Saya tahu saya seberat apa. Pembicaraan telepon itu berlangsung 15 menit sebelum adzan isya. Ba’da isya aku segera meluncur dengan menggowes sepeda biru dengan berat kaki (biasanya berat hati kan). Aku merasa kali ini gowesanku jauh lebih berat. Mungkin sepeda biru ini merasa tidak ikhlas ini menjadi gowesan terakhir kakiku.

Sesampainya di sana, Bang Abubakar sudah menunggu. Dia menunggu sembari mengutak-atik Grenio Hitam. Salam kuucapkan ketika melewati pagar. Itu kalimat pertama. Kalimat kedua merupakan permintaan maaf. Maaf karena baru bilang sekarang, maaf karena ngerepotin sampai malem-malem, maaf mengganggu waktunya. Layaknya pertemuan kami yang lalu, ia mengambil seluruh kata-kata maaf itu dan menggunakannya sendiri. Bahasanya sulit ya? Gampangnya ia merasa ialah yang bersalah dan bukan aku (mungkin, yang aku tangkap). Ujungnya ialah yang banyak meminta maaf dan bukan aku. Bukan aku, bukan aku.

Moralnya, tidak semua pedagang mengejar keuntungan semata sehingga mengabaikan hal krusial yang namanya kepuasan pelanggan. Masih ada orang-orang seperti Bang Abubakar ini yang meninggikan posisi pembeli. Menganggap pembeli juga manusia sama sepertinya, bahwa pembeli juga mencari utilitas dari apa yang ia beli. “Pernah suatu kali bang pelanggan saya dari Bekasi. Nah waktu itu ia bilang ada masalah ama barang yang dia beli dari saya. Ya harganya gak mahal sih. Cuma 35rebu. Tapi ada yang ngeganjel di hati saya. Akhirnya saya pun datengin orangnya di Bekasi, sekalian main ke rumah kerabat saya. Saya ganti barangnya dengan barang lain. Gak enak saya mas kalau saya biarin dia dapet barang gak bagus. Seandainya diikhlasin bang ya, saya tetep gak enak. Masih ada yang ngeganjel di hati.” Two thumbs up for BAng Abubakar!

Pembicaraan kami diselingi oleh kegiatan tukang olehnya. Kali ini ia memainkan mekanisme gir belakang. Ia berkata girnya bermasalah sedikit. Katanya girnya nggak mau pindah ke gir 1. Naaah, setelah apa yang kualami dengan sepeda biru, itu bukanlah masalah. Mau tau yang namanya masalah bang? Coba kayuh sepeda biru itu.

Lalu aku mencoba Grenio Hitam dan efeknya luar biasa. Mungkin karena sebelumnya aku mengayuh sepeda biru yang naudzubillah berat, Grenio Hitam ini terasa amat ringan. Mungkin atau memang benar ringan. Perbedaannya sangat jauh. Keluarga gir di sepeda ini tampak akur. Tak ada perselisihan yang berarti. Kayuhannya ringan. Satu-satunya yang kurang cuma rem nya yang cuma satu dan kurang pakem. Ah, tak mengapa

Grenio hitam. Pada akhirnya aku membelinya juga. Sesuai dengan akadku ketika melihatnya di iklan Bang Abubakar. Mungkin baiknya kuberi nama lain. Sepeda Baja Hitam, sesuai warna hitam krom yang mirip baju zirah Black Kamen Rider

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s