Gemertak Gir Sepeda Biru

Terbelilah sepeda biru seharga 350 ribu…

Sudah terbilang murah untuk sepeda bekas di beberapa bagian masih terlihat baru. Memang baru sebenarnya. Seperti rear derailleur dan trigger shifter-nya. Keren kan istilahnya? Aku juga baru tahu…

bike_07

(Ini bukan gambar sepeda yang kuceritakan)

Nah Bang Abubakar, si penjual, merupakan salah satu contoh pedagang online yang berhati suci. Ia mengutamakan kepuasan pelanggan sembari mencari keuntungan. Barang yang ia jual ia beberkan kelebihan dan kekurangannya, asal muasalnya hingga curriculum vitae dari si barang.

Pada awalnya yang ingin aku beli adalah sepeda hitam merk Grenio. Harganya 320rb. Ia ceritakan dari awal datangnya sepeda itu. Masa-masa indah bersama Grenio hitam. Sampai akhirnya mereka berpisah karena (mungkin) Grenio Hitam terlalu baik untuk Bang Abubakar. Ia juga bilang kalau Grenio Hitam ini cuma memiliki satu rem, sadel yang sedikit bocel (nggak tau artinya apa) dan ban depan yang sedikit kempis. Sesudah Bang Abubakar membuka semua kartunya, ia mempersilakanku untuk mengetesnya sendiri. Kayuhan yang berat aku rasakan langsung saat menjalani test ride. “Agak berat ya mas?” Nggak. Nggak ‘agak berat’. Sangat berat. Dengan raut sedikit bersalah ia menyarankan bengkel sepeda ‘banyak akal’ (istilah Bang Abubakar) yang ahli dalam mengakali sepeda untuk menyetel ulang sesuai kebutuhan. Yah, untuk sepeda berharga 3oo ribu aku tak mengharapkan banyak. Yang aku cari pun sekedar sepeda layak pakai supaya bisa ke Tj. Priuk tanpa bayar

Hampir saja deal, Bang Abubakar melihat sedikit lubang (atau lecet mungkin) di bagian pelindung plastik crank. Insting tukang Bang Abubakar mengatakan ada yang tidak beres. Sewaktu disentuh, pelindungnya langsung hancur. Keropos. Keringat dingin langsung mengucur di dahi Bang Abubakar. Walau agak kecewa karena masih ada yang tidak beres dengan sepedanya, aku senang melihat keringat jagung Bang Abubakar. Ia bangkit seraya memohon maaf. “Duh, saya jadi nggak enak nih mas.” Abubakar merasa sangat bersalah dan aku bertambah senang. Kagum lebih tepatnya. Karena aku dipertemukan pedagang jujur nan berjiwa amanah.

“Kalau tuker dengan yang biru mau nggak mas? Saya jadi nggak enak nih ngejual barang kayak gini. Takutnya nanti kenapa kenapa lagi.”

Tawaran Bang Abubakar sungguh menggiurkan. Bukan aku tak tertarik lagi dengan Grenio Hitam, tapi sepeda biru itu seperti memanggil-manggil namaku.

“Bedanya yang biru ama yang tadi apaan bang?”

Bang Abubakar menjelaskan kalau sepeda biru ini sudah mengalami perombakan di bagian-bagian yang aku katakan di paragraf awal tadi. Selain itu harga sepeda biru ini pun sedikit lebih mahal, 350ribu. Test ride pun segera dilakukan. Hmm, sejujurnya kesannya tak terlalu beda dengan Grenio Hitam. Sama-sama berat kayuhannya. Sadelnya aja yang sedikit lebih empuk. Pada akhirnya aku lebih memilih sepeda biru ini. Alasannya yah, karena setelah terjadinya insiden keroposnya pelindung crank dan menghindari selangkangan lecet akibat menduduki sadel batu Grenio Hitam.

Keringat jagung Bang Abubakar menguap saat aku memutuskan tetap jadi membeli sepedanya, sepeda yang biru. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi gembira luar biasa, tapi aku yakin ia tetap senang karena sepedanya terjual. “Semoga bermanfaat mas,” katanya,  dipermak dengan senyum ramah tipikal pedagang. Sebelum pamit pulang, ia sempat menunjukkan musholla terdekat untuk shalat ashar. Aku bertambah kagum. Nuranipun terketuk. Sungguh mulia Bang Abubakar ini. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertainya.

Setelah menatap iba pada Grenio Hitam, aku pun pamit. Aku sedikit menyesal karena tak mengucapkan maaf padanya. Selamat tinggal pun tidak kuucapkan. Maka petualangan sebenarnya dimulai. Menggowes berat dari Pedati menuju Kebon Nanas Selatan.

Benar saja, masalah baru muncul. Gir depan dan belakang yang sewaktu test ride baik-baik saja tiba tiba ngambek. Seperti ada yang nyangkut sewaktu digowes. Tersangkut, lalu lepas sendiri. Jalan sepedanya jadi seperti motor kopling yang salah digunakan. Seakan melompat-lompat kecil. Aku sempat beberapa kali turun untuk melihat apa yang salah, tapi percuma. Lebih dari sekali aku turun untuk membetulkan rantai pada gir nya tapi percuma. Aku terus berpikir apa yang harus lakukan, tapi percuma. Entah ada apa yang salah hingga mereka menjadi tak akur. Sang suami atau gir depan seakan mengeluh karena sang istri atau gir belakang tak bisa memasak. Belum selesai suami mengeluh si istri memotong perkataan suami, membawa-bawa gaji suami yang kecil. Anak mereka, gear shifter hanya dapat melihat pertengkaran mereka dari kejauhan, Mereka memandang ke bawah lesu sembari berusaha sebisa mungkin agar suami-istri tersebut bisa akur. Masalah keluarga gir ini lebih rumit dari yang kukira sepertinya.

Seingatku aku cuma memindahkan gir depan dan belakang bergantian. Sepeda gunung normal seharusnya baik-baik saja kalau gir nya dipindahkan. Parahnya gir ini  ngadat terjadi kurang dari 5 menit dari rumah Bang Abubakar. Aku bilang parah karena aku sendiri tak enak kembali lagi ke sana dan mengatakan “sepedanya rusak, kembalikan uang saya!” Sikapnya yang merasa tidak enak membuatku lebih tidak enak untuk kembali lagi. Cukuplah tadi aku membuatnya merasa tak karuan.

Untungnya aku bisa bertahan sampai ke kontrakan. Selama perjalanan aku tak henti mencari kombinasi pas dari gear shifter kanan dan kiri. Setelah dirasa pas, aku tak berani lagi menyentuh gear shifter. Untuk sekarang sepertinya masih bisa diakali

Yah mau bagaimana lagi? Sepedanya sudah terbeli. Aku sendiri tetap senang. Anggap saja keluhan dari sepeda ini juga segala permasalahannya sebagai ujian melatih teknik mengendarai sepedaku juga kesabaran. Doa ‘semoga bermanfaat’ dari Bang Abubakar pasti terkabul, sekarang aja sudah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s