Aku Menulis…

Kalau diingat-ingat sudah ada lebih dari 2 tahun, sejak pertama kali bermimpi indah menulis suatu buku. Nggak nulis yang muluk-muluk lah. Nulis novel aja dulu, yang kira-kira berdasarkan pengalaman sendiri. Secara teori sih nggak begitu sulit. Toh cuma memindahkan apa yang ada di memori kita atau catatan lainnya ke dalam media tulis lain. Tetapi kata ‘toh’ itu salah.

Untuk orang yang sepertiku, mulai menulis novel itu susah-susah-gampang. Susah yang pertama karena aku sendiri merasa sibuk hingga enggan meluangkan waktu untuk menulis. Bahkan mencuri-curi waktu menulis pun nggak mau. Super malas bahasa mudahnya. Kalau dipikir-pikir sebenarnya menulis bisa dilakukan kapan saja. Misal pas kuliah. Kalau lagi mentok sama yang namanya statistik, bisa aja bikin catatan kecil sebagai ide cerita. Pas di rumah bisa dilanjutin ide ceritanya. Sekali lagi ini baru teori, belum beranjak ke praktek. Karena ini yang sedang bicara ini aku yang ‘terlalu’ suka berteori.

Susah yang kedua, kalau aku menulis, lebih lama mikirnya daripada nulisnya. Ya tidak selalu. Karena aku tidak selalu menulis juga. Yang jelas kalau sudah menulis, aku tetap saja malas. Menulis 1 artikel 500 kata saja bisa habis 2 jam. Bayangkan apa yang bisa kita lakukan dalam jangka waktu 2 jam. Dan aku hanya mengalokasikan 2 jam tak ternilai itu hanya untuk menulis 500 kata di saat orang lain sudah selesai menulis satu cerpen berisi 2000-3000 kata. Masalahnya adalah aku lama memikirkan kata apa yang tepat untuk digunakan. Bagaimana pola kalimatnya, apakah terdengar enak kalau dibaca dan lainnya. Belum lagi sedikit-sedikit aku suka kembali ke kalimat sebelumnya, membaca dan kemudian memperbaikinya. Padahal belum tentu  kalimat awalnya jelek atau yang sesudah dikoreksi menjadi bagus. Itu semua menghabiskan banyak waktu! Mungkin aku tau solusinya. Lebih banyaklah menulis. Dengan begitu kita bisa semakin cepat. Nah blog ini salah satu wujud latihannya

Susah-susah-gampang. Di mana bagian gampangnya? Entahlah. Aku hanya menggampangkan (beda dengan meremehkan lho ya). Kalau aku tidak bilang gampang, tentu aku tidak menulis. Terlebih kalau aku terus menganggapnya sulit, aku pasti sudah tenggelam jauh ke dalam rasa pesimistis. Pada akhirnya takkan ada yang kutulis, atau ditulis, atau tak sengaja tertulis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s