Rapat Pleno Tema PKL 55 – 2

Pada rapat pleno II tema kali ini, Tim AB12 bidang ekonomi mengajukan dua tema, yaitu tentang Pariwisata Berkelanjutan dan Remitansi TKI. Kedua yang diajukan kali ini sedikit berbeda dengan tema-tema pada rapat pleno I tema yang telah berlangsung beberapa waktu yang lalu di mana pada rapat pleno tersebut bidang ekonomi mengajukan tema kajian ekonomi Pariwisata Berkelanjutan, Potensi Rumput Laut dan juga Faktor yang Mempengaruhi Produksi Mutiara. Namun tema rumput laut dan mutiara tidak dilanjutkan pembahasannya. Alasan utamanya adalah pada kajian ekonomi mutiara belum diketahui secara resmi tepatnya seberapa besar produksi mutiara di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak tersedianya kerangka sampel dan belum adanya data yang jelas mengenai pelaku budidaya mutiara di provinsi NTB. Sedangkan masalah untuk rumput laut adalah minimnya pelaku industri rumput laut di NTB, sulitnya mencari frame UKM pengolah rumput laut, serta terbatasnya jumlah petani dan rumah tangga yang mengusahakan rumput laut. Sebagai gantinya Tim AB12 bidang ekonomi mengajukan tema remitansi TKI di provinsi NTB.

Pertanyaannya, mengapa remitansi TKI? Hingga tahun 2014, Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah adalah kabupaten penyumbang TKI terbesar di Indonesia (ranking 1 dan 3). Di tambah lagi provinsi NTB memiliki proporsi TKI terhadap jumlah penduduk usia 10 tahun ke atas terbesar di Indonesia (1,1%). Sedangkan remitansi sendiri tidak serta merta menyebabkan penurunan kemiskinan di provinsi NTB. Untuk itu hal ini menarik untuk dikaji lebih dalam

Tanggapan dari dosen mengenai tema remitansi TKI cukup beragam. Beberapa di antaranya seperti Pak M. A, Yulianto dan Pak Wahyudin mempertanyakan pemilihan lokus NTB sebagai tujuan penelitian TKI karena sebenarnya, menurut Pak Wahyudin, masih ada tempat yang lebih dekat. Fokus dari penelitian remitansi ini juga dikatakan masih belum jelas. Khusus untuk frame penelitian perlu diperjelas lagi siapa yang akan diteliti dan apakah frame tersebut tersedia.

Untuk tema pariwisata berkelanjutan yang pada rapat pleno I juga diajukan, terlihat perkembangan dari segi konsep penelitian. Pariwisata berkelanjutan melihat unit observasi dari 3 aspek yaitu aspek ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Tim AB12 memaparkan, dari ketiga aspek tersebut akan dilihat demand (pendekatan wisman), supply (pendekatan unit usaha), dan sisi berkelanjutan (pendekatan rumah tangga). Mayoritas dosen memandang tema pariwisata sebagai tema paling cocok untuk dilakukan analisis mengingat status Lombok sebagai destinasi wisata. Kritik dan saran datang dari unit observasi yang terlalu luas dengan waktu pencacahan yang singkat, identifikasi masalah yang belum tajam, serta output penelitian yang masih belum fokus. Pak Dwi Harwin mengusulkan usul yang sedikit berbeda, yaitu untuk menggabungkan kedua tema tersebut. Maksudnya bukan menabrakkan dua tema melainkan mengaitkan kedua sektor (apabila sektor pariwisata memiliki iklim baik, masalah ekspor TKI dapat teratasi)

Pada akhir rapat, didapati Pariwisata Berkelanjutan sebagai tema unggulan untuk dipresentasikan kepada pimpinan STIS tanggal 18 Desember 2015. Tema pariwisata berkelanjutan ini diangkat dengan catatan pendekatan utama observasi adalah rumah tangga dengan informasi tambahan terkait lingkungan dapat digali dari unit usaha dan juga variabel yang diteliti harus dibatasi. Diharapkan pada saat presentasi dengan pimpinan STIS nantinya, kita sudah memiliki rancangan penelitian yang kuat, metode analisis yang tajam serta dapat membatasi data mana saja yang dapat disaring dari lapangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s