Warung Tempeh

Well, i’m sorry it’s not English. I realize so many of you that come to this article use English as main language. Sorry. I just can’t express it well in other language but Indonesian. What i am trying to say in this article is that tempeh is just a common food in Indonesia. It so cheap that some Indonesian consider it as an inferior food. But Warung Tempeh made tempeh much more valuable in London. For comparison, 1 block of raw tempeh cost you 2000 rupiahs or 0.098 pounds and Warung Tempeh’s Tempeh Jinten costs 5 pounds (2015). Of course it is ignoring other ingredients and its cooking process. Still, it is a great job what Warung Tempeh has done. Warung means small store or stall by the way 🙂

Kalau tidak salah kemarin ada yang mengatakan kalau tempe akan menjajah dunia (siapa ya?)

Nah kali ini penulis akan menunjukkan jejak kecil tempe dalam perjalanannya menaklukkan dunia.

Behold, Warung Tempeh!

Authentic Indonesian Tempeh

At Warung Tempeh we make the most delicious organic tempeh which we then serve in two freshly cooked dishes from our street food stall in central London.

Authentic Indonesian Tempeh. Hmm, kalau tagline itu dipakai sebagai media promosi di Indonesia, kemungkinan kalimat tersebut tidak ada gunanya. Yang benar saja. Tanpa dipromosikan pun tempe akan tetap menjamur di Indonesia! Dan sebagian besar orang mungkin bosan makan tempe. Atau beberapa tidak akan mau makan tempe karena status tempe sebagai makanan rakyat.

Tapi tidak di Pasar Leather Lane, London. Di situ terdapat suatu kedai makanan yang berfokus pada jualan utamanya, tempe. Nama kedai tersebut adalah Warung Tempeh. Suatu nama yang pasti membuat London mengernyitkan dahi karena terlalu Indonesia. Warung Tempeh didirikan oleh William Mitchell, orang asli Inggris. Ia mendirikan Warung Tempeh karena terbuai dengan kenikmatan tempe sejak gigitan pertamanya di Kelapa Gading tahun 1995. Saat itu ia tinggal di Indonesia dan bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Lucunya, gajinya sebagai guru bahasa Inggris dianggapnya kecil dan untuk alasan penghematan sehari-harinya ia makan di warteg. Coba bayangin. Bule makan di warteg. Pasti menggemparkan 🙂

Menu sehari-hari Mitchell pasti tempe. Oreg tempe lebih tepatnya (Nggak tau deh orek/oreg). Nah bagi anak kos, mungkin oreg tempe dijadikan opsi menu yang terakhir, saat kantong sudah semaput. Tapi si Mitchell ini menjadikannya menu utama. Bukan nasi dengan lauk oreg tempe melainkan oreg tempe dengan lauk nasi. Nggak tau sih hal yang bagus atau nggak

Yang jelas semenjak kembalinya ke Inggris, Mitchell ingin menularkan adiksinya ke tempe ke London dengan menjual tempe. Awalnya tak mudah. Karena di sana tidak ada tempe, maka ia harus memproduksi sendiri tempe miliknya dari kacang kedelai. Hal yang tidak mudah bagi seorang bule

warungtempeh1“Saya belajar membuat tempe selama beberapa bulan di Jawa dari beberapa produser dan setelah beberapa bulan saya mampu membuat tempe dengan kualitas tinggi di Inggris,” kata William kepada BBC Indonesia. Dan itu menjadi titik balik bagi karir tempe nya di London

“We make all our organic tempeh by hand, according to traditional methods (in fact we even studied with some of Indonesia’s finest tempeh producers to ensure that our tempeh is of the highest possible quality).”

Hmm, tak salah lah ia mengatakan begitu. Toh ia benar-benar berguru dengan banyak shifu tempe di Indonesia. Malang, Blitar, Surabaya, Jakarta, dan pastinya masih ada banyak lagi tempat-tempat yang ia kunjungi demi belajar tempe. Dan ia tidak main-main. Riset dan masa belajar ia habiskan waktu berbulan-bulan. Yah begitulah. Yang ia inginkan bukan sekedar tempe, tapi tempe kualitas nomor 1.

Nah, untungnya pengorbanan Mitchell tidak sia-sia. Warung Tempeh memiliki banyak fans setia. “Konsumen sangat menyukainya dan terbukti sangat populer. Sebagian besar konsumen belum pernah mencoba tempe dan mereka jadi pelanggan tetap”

Sudah dibahas sebelumnya kalau di London tempe tidak sekomersil di Indonesia (semua juga tahu kali). Maka dari itu pekerjaan Mitchell ada banyak. Buat tempe, masak tempe dan promosikan tempe. Semua ia kerjakan dengan stafnya sendiri. Ia pun memiliki jadwal yang agak aneh bagi penjual makanan jalanan. Senin dan selasa ia luangkan untuk membuat tempe lalu rabu hingga jum’at nya ia gunakan untuk membuka lapak tempe dan menjual tempe yang ia buat. Ia pun tak berjualan lama-lama. Bersiap sejak pagi, ia memulai menerima pelanggan pukul 10.00 dan menutupnya setelah makan siang. Eksklusif gak tuh?

 Untuk menunya sendiri Warung Tempeh memiliki dua menu yaitu:

Kari Tempeh Kuning
warungtempeh2

warungtempeh3

Nggak, matamu nggak menipumu. Harganya memang 5 poundsterling. Sekarang coba ambil kalkulator mu. Tekan 5 x 21000 karena 1 poundsterlingnya bernilai Rp 21000 (per 26 juni 2015). Berarti Rp 105000 untuk sekali makan siang. Hmm. Kalau di warteg oreg tempe bisa dibeli seharga Rp 2000, si Mitchell bisa untung Rp 103000. Wew. Mau jualan tempe?

Please visit http://www.warungtempeh.com/ for more info

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s