Yang Dipandang Sebelah Mata, Tempe

Coba tebak apa bahasa inggrisnya tempe. Tempeh? Yap, sesimpel itu.

Pasti karena tempe adalah produk asli Indonesia, layaknya orangutan, yang bahasa inggrisnya mengambil mentah-mentah bahasa Indonesia. Bukti bahwa di luar sana tidak ada yang namanya tempe

Tempe asli Indonesia, tepatnya Jawa. Itu sih tidak perlu diperdebatkan lagi. Tidak perlu diberitahu bahwa bukti sejarah adanya tempe di Jawa tercatat dalam Serat Centhini yang ditulis oleh juru tulis keraton Surakarta, R Ng Ronggo Sutrasno pada 1814. Serat Centhini sendiri mengambil latar Jawa pada abad ke 16. Diceritakan saat Cebolang melakukan perjalanan Prambanan-Pajang, ia singgah di dusun Tembayat kabupaten Klaten dan dijamu oleh Pangeran Bayat dengan jamuan seadanya. Bisa ditebak, jamuan sederhana itu tempe. “…brambang jae santen tempe asem sambel lethokan …” sambel lethok dibuat dengan bahan dasar tempe yang telah mengalami fermentasi lanjut.

Nah bukti tersebut sekaligus mewakili kasta tempe sebagai pangan tingkat rendah, di mana dahulu tempe hanya dimakan jelata. Yang membuat tentulah rakyat golongan bawah pula. Walaupun diyakini mereka dahulu tidak ada yang mengerti dengan yang namanya bioteknologi, fermentasi ataupun mikrobiologi, masyarakat Jawa bisa mengembangkan tempe. Diduga kuat munculnya tempe berkaitan erat dengan saudara sedarah sekaligus rival abadi tempe, TAHU!

Tahu sendiri bukan asli produksi Jawa. Ia dibawa ke Jawa oleh Cina. Bahan tahu dan tempe sama. Sama-sama kacang, sama-sama kedelai. Maka timbullah skenario seperti ini. Limbah hasil pabrik tahu (tahu lahir duluan, kemungkinan besar) yang dibuang dibiarkan begitu saja. Tak lama kemudian timbul kapang dari buangan tersebut. Seseorang, di suatu tempat, entah bagaimana caranya tanpa sengaja memakan kapang tersebut. “Enak!” Mungkin kurang lebih begitu. Lalu, eng ing eng, lahirlah TEMPE.

Tempe adalah makanan rakyat. Seperti kata Abraham Lincoln. Tempe adalah dari oleh dan untuk rakyat, hehe. Bahkan Bung Karno sendiri pernah berteriak di depan ratusan ribu pendengarnya : “Janganlah kita sekali-sekali menjadi bangsa Tempe”. Disini Bung Karno bukan berteriak soal tempe sebagai makanan inferior bangsa kita, tapi sebagai ‘makanan yang diinjak-injak’. Namun bagi bagian banyak orang quotes ini dikenang  sebagai ‘Rasa Inferioritas Tentang Tempe sebagai makanan”.

Sedih nggak sih dibilang inferior? Bagi yang belum tahu, inferior itu kalau diukur secara materi, posisinya lebih parah daripada sekedar miskin. Penulis sebagai hooligans tempe (sebenarnya tahu juga) merasa dihinakan! Gimana nggak. Dari rasanya yang enak luar biasa dan bisa divariasikan sedemikian rupa, ternyata tempe cuma dianggap makanan rendah. Padahal menurut penulis tempe bisa disejajarkan dengan komoditas pangan dari negara lain. Contohnya kalau Belanda punya keju, Prancis punya baguette, Indonesia punya tempe. Long live tempeh!

Benar saja. Ada seorang bule yang bisa melihat betapa valuable nya nilai tempe sebagai bahan kuliner. Pelan namun pasti, tempe mulai mengudara, menjajah Eropa dan Amerika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s