Apa Dia Melihatku?

“Aku masih tidak percaya aku berdiri di sini sekarang”

“Sudahlah fan, kau sudah tiba. Tidak ada gunanya lagi mengeluh…”

“AAAHHHHHH !!” teriakku geram. “Kau pikir karena siapa aku di sini ?? Dan juga katamu akan ada banyak orang. Memangnya berapa banyak yang ada sekarang ?”, sambil mencengkeram dan menggoyang-goyang lehernya. Ingin rasanya aku mengemut kepalanya itu sampai seluruh rambutnya rontok.

“Hey, hey, hey… dengerin dulu.” Ia sedikit menjauh, lalu menyambung, “Memangnya ada hal penting apa yang harus kau lakukan? Kayak ada kerjaan aja. Ini hari sabtu bos…”.

“TEPAT ! Hari SABTU ! Hari dimana aku ingin sedikit mengistirahatkan tenaga dan pikiran setelah hampir seminggu berkutat dengan materi kuliah. Hari yang seharusnya kumanfaatkan dengan terus memeluk guling dan tenggelam dalam kasur empukku sampai jam 10!”.

“Tuh kan, hal yang tidak bermanfaat. Untung saja kau kuajak ke sini . Apa otot-otomu tidak terasa kaku setelah tidak digunakan secara maksimal? Nanti tubuhmu menangis lho…”.

“DIHARAPKAN KEPADA PESERTA SENAM UNTUK MEMASUKI BARISAN KARENA SENAM AKAN SEGERA DIMULAI…”, itu suara instruktur.

Aku dan temanku lalu mencari barisan yang kosong dan masuk ke dalam barisan itu. Kami memosisikan diri kami di barisan belakang, agar tak terlalu menjadi perhatian. Lagipula di sini jumlah perempuannya jauh lebih banyak. Kami akan dikira duo mesum yang mencari “kebahagiaan” di tengah kerumunan wanita. Jadi di sini lebih baik. Posisiku dan temanku bersebelahan. Oh ya, nama temanku ini Faisal.

“Ssstt, Yulfan, jam 2 lewat 10 !”, Faisal berbisik. Aku paham ia bermaksud menunjukkan sesuatu, tapi jam 2.10? Yang benar saja.“Itu…”, sambung Faisal. Ah, akhirnya aku mengerti sekarang. Pantas saja pagi tadi ia begitu berapi-api saat datang ke kos ku. Ia bahkan sampai 11 kali mengucap “kesehatan” (ya, aku menghitungnya). Bukan seperti Faisal yang biasanya. Yang kulihat adalah Dhea Hanara.

Nah, sekarang aku mengerti. Begini, Dhea Hanara adalah teman seangkatan kami yang belakangan menjadi topik perbincangan kaum lelaki kampus kami. Tentu saja ia dibicarakan karena penampilan fisiknya yang sejajar dengan model iklan. Ia tinggi, rambutnya sebahu tergerai indah dan ia pun dianugerahi paras anggun. Matanya tidak sipit, tidak juga besar. Alisnya tergores indah di atas mata jelita itu. Hidungnya yang mungil tertanam rapi di atas wajahnya yang halus. Mengutip perkataan Faisal: “Oh semua begitu proporsional. Ia bagai kanvas yang dilukis indah oleh Tuhan ” dan yang ia katakan dapat dipahami kami semua, para lelaki. Lalu yang membuat ia bagaikan paket deluxe adalah ia juga kaya. Tercermin dari pakaian yang ia kenakan sehari-hari ke kampus. Selalu terlihat mahal. Dengan semua yang ia miliki tak heran ia berada di urutan pertama dalam daftar ”gadis yang paling ingin kau nikahi” teman-temanku. Tapi tidak untukku. Bagiku Dhea Hanara hanya gadis yang cantik. Tidak lebih. Sungguh. Suer. Tapi jujur saja, setelah mengetahui alasan sebenarnya, aku semakin kesal. Seharusnya aku masih bersama kekasihku (guling maksudnya) sekarang.

“Keren kan ?? Setelah satu minggu penuh penyelidikan, akhirnya aku tau dia aktif dalam kegiatan senam sabtu ini. Rasa lelahku terbayar sudah…”, Faisal mengatakan itu sembari tersenyum, senyuman mesum. Mungkin karena senyuman yang seperti ini kaum lelaki dipanggil brengsek (maaf) oleh wanita…

Musik senam kemudian bermain. Sejenak kemudian aku tertegun mendengar musik senam. Aku merasa familiar pada harmoni nada-nada musik senam ini. Suara terompet itu, ketukan itu… Ya, aku yakin sekali aku pernah mendengarnya. Tiba-tiba aku merasa sensasi kegirangan yang menyenangkan. Siapa sangka aku kembali mendengarnya sekarang. Tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri mengikuti ketukan senam. Mengapa bisa? Sudah berapa lamakah ini? Apakah ‘dia’ masih melihatku ? Tiba-tiba aku kembali terlempar jauh ke masa lalu. Masa di mana aku masih kecil dan bodoh di bangku SD. Masa dimana aku sangat hiperaktif ketika senam. Masa dimana masih ada Risya.

-O-

Risya, teman sewaktu SD-ku, adalah perempuan pertama yang entah kenapa dengan melihatnya saja sudah membuatku merasa bahagia. Saat pertama kali melihatnya, aku sempat bertanya-tanya mengapa dunia terasa lambat namun melambat dengan indah. Seakan musik mengiringi jalannya. Cara jalannya lugas dan selalu yakin. Ayunan tangan dan kakinya tersinkronisasi sempurna bahkan lebih indah dari sebuah tarian. Ceria. Lalu senyumnya ! Sungguh menawan. Meskipun waktu itu aku belum banyak bertemu orang, namun aku sudah dapat membedakan mana orang yang tersenyum dengan sukarela dan mana orang yang tersenyum palsu. Risya berbeda. Ia selalu senyum dari hatinya, aku tahu itu. Bibirnya begitu meliuk dengan indah begitu ia menyunggingkan mulut. Orang yang melihatnya senyumnya pasti akan tersenyum juga. Tak seperti perempuan bernama Sarah, Zahra, ataupun Nadia, kecantikan Risya tak dapat dilihat semua orang. Tapi Aku bisa. Alis, pipi, dagu, semuanya sudah terukur sempurna. Melihatnya memompa adrenalin begitu kencang. Mungkin pada saat itu hormon-hormon penyebab ketertarikan terhadap lawan jenis aktif untuk pertama kalinya. Sensasi menyenangkan! Aku tak tahu pada umur berapa sewajarnya kita pertama kali merasakan “suka” tapi kurasa untuk kasusku masih terlalu muda. Jangan salahkan aku, salahkan Risya yang bertemu aku begitu cepat…

Yang patut disayangkan, aku tak pandai dalam bergaul dengan perempuan. Didikan orang tua yang kurang mengenalkanku hubungan terhadap lawan jenis mengakibatkanku buta dalam hal ini. Akhirnya aku menjadi sangat pemalu di hadapan perempuan, meski tak semua. Aku lama berpikir kata-kata apa yang paling cocok digunakan bila berbicara dengan mereka. Terlalu lama sehingga aku lupa apa yang kubicarakan sebelumnya. Kepada Risya pun aku yakin akan seperti itu. Bisa jadi lebih parah. Keringat dingin terus-terusan atau mengeluarkan ‘batuk palsu’. Untung saja kami belum saling mengenal, jadi belum perlu melakukan kontak langsung secara dekat. Jadilah aku pengagum tersembunyinya. Melihat senyumnya dari kejauhan menimbulkan rasa senang tersendiri. Kalau cukup dekat dan cukup beruntung, aku juga bisa mendengar alunan suaranya. Yah, aku tahu terkesan menyedihkan, hanya mengagumi dari jauh. Tapi entah kenapa aku merasa itu sudah cukup.

Perasaanku campur aduk saat kenaikan kelas dan mengetahui sekelas dengan Risya. Apa harus senang ? Tapi sungguh gugup melihatnya. Saat perkenalan pun begitu. Tentu saja aku berpura-pura kenalan dengannya karena sebenarnya aku sudah lebih dari sekedar tahu tentangnya. Lalu kami bertatap muka, berjabat tangan, mengucapkan nama. Cuma sebentar, namun ingin berteriak rasanya! Sungguh menyenangkan. Aku sudah latihan agar tak salah dalam perkenalan ini. Semuanya berhasil. Yang paling kuingat adalah ia memiliki tangan yang hangat, sangat hangat. Oh, atau aku yang terlalu gugup hingga tanganku menjadi dingin. Entahlah, tapi perkenalan itu berjalan lancar.

Walaupun sekelas, keadaan sebenarnya tak jauh berubah. Aku jarang melakukan komunikasi dengannya. Tapi menurutku itu wajar. Ia pasti lebih merasa nyaman untuk bergaul dengan teman-teman perempuannya dan aku pun sangat menikmati masa kanak-kanak dengan bermain liar selayaknya laki-laki. Hingga akhirnya tiba pada pelajaran olahraga. Ada senam irama baru yang akan diajarkan guru olahraga kami. Aku begitu antusias dengan senam ini. Alasannya sederhana. Senam merupakan satu-satunya pelajaran olahraga yang aku kuasai. Wajar aku begitu bersemangat mempelajarinya. Semua gerakan kulakukan sesempurna mungkin. Aku mengerahkan seluruh tenaga untuk setiap gerakan senam ini. Anak lain sepertinya tak begitu tertarik pada senam ini. Yah, hasilnya tak sia-sia. Saat pengambilan nilaiku sangat memuaskan. Berikutnya senam itu dilakukan rutin setiap sabtu pagi.

Mungkin karena terlalu menghayati jalannya senam, aku tak terlalu memerhatikan keadaan sekitar saat senam. Tapi belakangan aku tahu banyak yang tersenyum melihat caraku melakukan senam. Terlalu berapi-api! Setelah kuperhatikan benar juga. Tak ada anak lain yang melakukan senam seperti aku. Bagaikan anak hiperaktif yang dibariskan dengan anak normal lainnya. Aku sedikit bangga akan akan hal itu. Satu hal yang kulupa. Risya! Oh betapa malunya bila ia melihat.

Pada senam sabtu pagi, aku ingin mengetahui apa ia ikut menertawaiku saat melakukan senam. Maka aku observasi seluruh barisan dengan seksama. Dalam hal baris-berbaris aku selalu berada di belakang, namun bukan yang terbelakang. Dan Risya, selalu berada di paling depan. Selal… Lho? kali ini ia tidak ada di barisan depan. Tidak di barisan kedua atau ketiga. Tidak di ujung atau tengah lapangan. Saat kupikir dia tidak masuk sekolah, aku mendengar suaranya dari belakang. Risya ada di belakangku! Arah jam 4.30! Mengapa ia di sini? Mengapa aku baru sadar? Ekspresi sedikit kagetku dibalasnya dengan lambaian tangan dan senyum. Ya, senyum itu, yang mampu membuat waktu berhenti.

Lalu senam dimulai. Seperti biasa, aku mencoba mencurahkan segala fokusku ke senam. Dan ya, kulakukan dengan bersemangat. Sesekali aku menoleh ke kanan-belakang ku, dan ternyata Risya melihatku. Ia melihatku dengan senyum manisnya itu. Cepat-cepat aku kembali melihat ke depan. Begitu ada sedikit kesempatan menoleh, maka pada saat itu pula mataku dan matanya bertemu tanda ia terus memerhatikanku. Hahaha, rasanya luar biasa. Biasanya aku malu ketika orang lain menertawaiku (bukan mengejek, aku paham) melakukan senam, tapi tidak bila orang itu Risya. Melihatnya sedikit tertawa melihatku yang sesekali melihatnya merupakan penglihatan yang tidak ternilai. Aku pun ikut tertawa. Kucoba tingkatkan intensitas gerakanku, ia tertawa dan mencoba meniru. Bahagianya. Tepat ketika senam selesai dan barisan dibubarkan, Risya datang ke arahku lalu berkata, “Aku suka melihatmu senam. Semangat sekali !“, matanya berbinar-binar. Yup, betul bung. Aku tak keberatan dunia kiamat sekarang…(berlebihan)

Kuharap aku bisa terus begini selamanya dan ternyata itu benar. Setiap senam sabtu, Risya selalu ada di 4.30. Oh pernah juga 4.31. Entahlah, ia telah menjadi alasan mengapa aku melakukan senam dari sabtu ke sabtu, selalu. Pernah satu waktu aku sengaja menjauh darinya dan ternyata dia mengikuti. Senam ini sudah kuanggap kencan untukku yang begitu kecil dan bodoh. Senam itu juga memberi pengaruh pada hubungan aku dan Risya. Kami menjadi semakin mudah bercengkrama. Aku tidak keringatan lagi berada di dekatnya. Semua yang kubicarakan pun terasa tepat. Pengaruhnya jauh lebih besar. Tak hanya kepada Risya, namun ke banyak perempuan. Lalu aku semakin yakin bahwa perasaan suka ini pada Risya nyata. Tapi tetap saja tak bisa kukatakan seperti dalam sinetron. Aku tetaplah anak kecil waktu itu. Atau barangkali ia sudah tahu aku suka padanya?

Hanya pada saat SD aku satu sekolah dengan Risya. Ia melanjutkan sekolahnya ke keluar kota setelah lulus SD. Aku pun hanya dapat melihatnya setahun sekali, saat libur lebaran. Itu pun jarang kulakukan. Terakhir aku bertemunya tahun lalu, setelah kelulusan SMA. Ia sungguh tak berubah. Walau tak bisa melihatnya, aku tak merasa sedih sama sekali. Mungkin karena aku selalu menganggap ia selalu ada di belakangku, di 4.30.

-O-

Tanpa terasa senam tadi sudah selesai. Ternyata aku masih hafal gerakannya dan masih hiperaktif. Nostalgia tadi sungguh menyenangkan. Kemudian aku sadar ada yang berubah. Si mesum Faisal tak lagi melihat ke 2.10. Ia sekarang sesekali curi pandang ke tepat belakangku. Lalu saat aku menoleh ke belakang, ada Dh… Dh.. DHEA ! Mengapa ia di sini ? Mengapa aku baru sadar ? Ekspresi sedikit kagetku dibalasnya dengan lambaian tangan dan senyum manisnya. Ah, entah mengapa ini terasa familiar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s