Non Kosan, Non Kontrakan

Entah di mana aku pernah mendengarnya. Semakin jauh perjalanan, semakin banyak pengalaman yang didapat. Tidak ingat pasti bagaimana kalimat pastinya. Apa itu ‘pengalaman’, ‘pelajaran’ atau ‘kebijaksanaan’ yang akan didapat. Atau malahan kalimat itu tidak pernah aku dengar dari mana-mana melainkan hasil imajinasi sendiri. Hmm, entahlah. Yang jelas menurutku itu benar. Semakin jauh perjalanan, semakin banyak pelajaran yang didapat. Senada dengan hadits riwayat Abu Dawud. Semakin jauh perjalanan seorang untuk berjamaah ke masjid, maka semakin besar pahalanya. Dua-duanya menyuratkan hal positif.

Yah begitulah. Salah satu metode menghibur diri untukku yang mulai kini harus hidup layaknya salmon, yang terus bermigrasi dari sungai ke laut. Kini aku harus mengelana tiap pagi dan sorenya. Pagi menuju timur, sore kembali ke utara. Tak seperti sebelumnya yang terkungkung di timur. Nah untuk sementara (atau selamanya), mari kita ucapkan selamat tinggal pada hidup ngekos.

Walau dibilang menghibur diri, aku tidak sekecewa itu. Toh keputusan ini diambil setelah pertimbangan panjang seperti biasa. Mungkin terlalu panjang sampai-sampai keputusannya hampir tidak diambil. Pertimbangan pertama karena sifat sangat malas yang tertanam. Aku tak ingin memupukinya dengan hidup ngekos tidak teratur. Hampir tanpa jadwal teratur, tanpa pengawas. Hasilnya? Sampai sekarang tak henti menzalimi diri sendiri. Yang kedua alasan keluarga. Tak semua orang punya hubungan keluarga di Jakarta. Aku punya keluarga di Priuk, tapi malah tidak tinggal di sana. Padahal mereka meminta, tapi malah mengikuti ego untu hidup ngekos. Hubungan antara aku dan keluarga Jakarta kurasa kurang akrab. Entah bagaimana yang mereka rasakan terhadapku. Moga dengan tinggal dengan mereka semakin mengencangkan ikatan darah kami.

Lalu alasan lain aku ingin melatih diri untuk hidup layaknya orang Jakarta. Aku yakin semua juga tahu Jakarta itu padat. Sangat. Dan di dalam padatnya Jakarta, orang yang tinggal di dalamnya menjadi terlatih. Punya daya hidup yang tinggi (duh, kosakata terbatas). Orang Jakarta harus melakukan penyesuaian diri secara total agar bisa terus hidup, bersaing di tengah kepadatan. Semisal untuk sekolah saja ada yang harus menempuh perjalanan 2 jam karena terkena macet atau karena kalah cepat dapat sekolah dekat atau karena keras kepala memilih sekolah itu. Mau tidak mau yang bersekolah sudah harus berangkat saat yang lain masih nikmat menyantap sarapan. Itu baru soal sekolah. Bagaimana yang urusannya menyangkut perut (baca: nafkah)? Orang harus lebih kuat lagi supaya bisa bersaing. Untuk itu aku rela bertualang utara-timur tiap hari. Supaya jadi lebih kuat. Supaya nanti sewaktu hidup sendiri semuanya jadi gampang.

Utara-Timur. Mahoni-Otista. Kalau lihat di Google Maps jaraknya 17.3 km. Katanya 31 menit dengan mobil pribadi. Mungkin benar, tapi aku tidak punya mobil pribadi. Sepeda motor juga tidak punya. Mobil atau sepeda motor untuk dipinjam juga tidak punya. Tiap harinya aku menempuh rata-rata 1 jam 15 menit dengan angkot+transjakarta. Lumayan lama memang. Sewaktu pertama sampai Jakarta aku pernah mencoba dan menyerah. Enggan menghabiskan 1 jam lebih hanya untuk di jalan. Tapi saat kulakukan lagi sekarang rasanya berbeda. Tak merasa capek seperti dulu. Tak melihat bahwa perjalanan 1 jam lebih itu sia-sia. Malah aku melihat banyak sisi positifnya.

Aku bertemu berbagai macam rupa orang, termasuk wanita. Naluriku sebagai lelaki membuatku menginginkan berjuta wanita di sisiku. Dan itu membuatku bahagia!

Sepertinya salah bila disebutkan…

Yang jelas berjumpa dengan banyak orang ini yang bisa menjadi ribuan pengalaman baru. Berkenalan, bertegur sapa, mengakrabkan diri dengan orang seperjalanan. Banyak yang bisa didapatkan dengan bersosialisasi dengan mereka. Kita bisa tahu (walau tidak menyeluruh) seluk beluk pekerjaan seseorang, apa yang ia lakukan dan bagaimana cara kerjanya. Kita juga bisa belajar memahami emosi orang lain, belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang lain yang baik, belajar mengidentifikasi apakah seseorang sedang berbohong atau tidak. Ada banyak, banyak sekali yang bisa dipelajari. Dan satu hal lagi,  aku jadi tahu kalau misalnya kau laki-laki, berambut botak dan memakai seragam STIS, kau akan dikira seorang perwira sekolah perkapalan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s