Raksasa dan Kisahnya yang Tragis Karena Timun

“Ah…”

Kepalaku sangat pusing. Di mana ini? Apa yang telah terjadi? Yang kuingat terakhir tadi malam aku tertangkap petapa karena mencuri mentimun emasnya. Tapi mengapa aku bisa berada di dalam gua ini sekarang? Sudahlah, aku harus segera pulang. Sarni pasti menungguku semalaman. Ah iya, aku tak mendapat apa-apa dari pekerjaanku kemarin. Pencurianku di ladang mentimun petapa gunung gagal total. Aku harus mencari-cari alasan pada Sarni. Bisa-bisa dia minta diceraikan lagi seperti waktu itu…

Lalu aku tersadar sesuatu. Segala sesuatu yang ada di sekitar ku terasa kecil. Ukuran gua ini juga mengapa kecil sekali? Sontak aku berteriak. Teriakan yang sama kerasnya dengan suara petir, sampai-sampai gua ini terasa mau runtuh.

Aku segera berlari keluar dan segera menuju danau dekat gua. Lama aku bercermin di air danau itu. Dan ternyata memang benar segala sesuatu terasa lebih kecil. Itu karena aku yang telah berubah menjadi besar. Besar dan mengerikan kalau perlu aku tambahkan. Aku telah berubah menjadi raksasa. Lengkap dengan gigi taring panjang dan bewok ikal berantakan. Untungnya meski aku sudah membesar dan seluruh pakaianku koyak, celana dalam yang kupakai tetap utuh. Putih seperti baru.

Berarti gosip yang beredar selama ini memang benar. Bahwa si petapa gunung itu bisa melakukan sihir. Kurang ajar dia. Aku harus membalasnya. Untuk itu aku menyusun rencana penyiksaan yang tak akan ia lupakan seumur hidup. Pertama-tama aku akan pergi ke rumahnya lalu menginjak-injak ladang timunnya. Tentunya ia akan keluar dari rumahnya karena penasaran apa yang sedang terjadi. Nah, sebelum ia bisa berteriak minta tolong atau melakukan sihirnya, secepat kilat aku tangkap ia dengan tangan raksasaku. Dia pasti kaget dan tak sempat melakukan apa-apa. Kemudian ia kuputar-putar di dalam genggamanku, kujilat, lalu kucelupi ia ke lautan ladang timunnya. Ia pasti akan merasa pusing, lengket dan sakit di waktu yang sama. Tapi tak cukup sampai di situ. Siksaan ke petapa itu kuakhiri dengan tendangan dahsyat dari kaki raksasaku. Ia akan kutendang hingga menembus awan. Hanya dengan begitu dendamku bisa terbalas. Dan di akhir cerita aku kembali ke wujud asalku sambil tersenyum puas.

Tetapi di awal rencana saja aku kesulitan. Aku lupa di mana rumah si petapa. Setelah berjam-jam bertanya ke sana kemari di mana rumah si petapa, aku bisa menemukan kembali dengan penuh peluh. Segera saja aku menginjak-injak ladang timunnya sambil berteriak menggila. Namun selang 10 menit si petapa tak kunjung keluar. Kurasa ia sedang tidur siang .Aku tak boleh menyerah. Maka aku mengeraskan teriakan dan injakanku. Sang petapa masih saja tak keluar. Penasaran, aku datangi rumahnya. Ketika aku hendak ingin mengucapkan salam, tetangganya datang menghampiriku. Ia bilang si petapa sudah pindah rumah tadi malam. Hatiku remuk seketika mendengarnya. Semua yang kulakukan sia-sia. Maka aku menjalankan rencana B. Balik ke gua…

20 TAHUN BERLALU

Tak terasa 20 tahun sudah berlalu. Selama itu aku mencoba berkelana mencari raksasa perempuan lain sebagai pengganti Sarni. Namun hasilnya nihil. Balik ke gua…

Lalu tiba-tiba ada seorang wanita tua masuk ke dalam guaku. Sarni? Buat apa kau kemari? Ia pasti tidak mengenal suaminya yang sekarang menjadi raksasa. Ia masih cantik seperti dulu. Cantik layaknya bintang. Aku masih sangat mencintainya namun malu menunjukkan diri di depannya. Untuk itu aku memilih untuk pura-pura menjadi raksasa yang jahat.

“Hei, mau kemana kamu?” tanyaku.

“Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar”

“Hahahaha… kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap.” Sesungguhnya aku tak sengaja menggucapkannya. Mungkin akibat penjiwaan yang terlalu dalam.

“Tetapi aku tidak mempunyai anak.”

Sarni mengatakan bahwa dia lelah dengan pekerjaan rumah tangga yang selama ini ia lakukan dan ingin sekali punya anak agar dapat jadi pembantunya. maka aku memberinya biji timun ajaib yang dapat menghasilkan bayi hasil penjarahan rumah petapa 20 tahun lalu. Lalu aku pun berkata

“Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji timun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku tanggal 1 april, 17 tahun dari sekarang.” Ini yang namanya rencana jangka panjang. Rencananya, 17 tahun yang akan datang aku akan membuka jati diriku yang sebenarnya pada Sarni. ‘Sebenarnya, aku adalah SUAMIMU!!!’ Kira-kira seperti itu. Kemudian Sarni akan menangis bahagia, menerimaku apa adanya, dan hidup bahagia selamanya. Anak timun itu? Aku tak peduli

17 TAHUN BERLALU

Hari yang kutunggu-tunggu tiba. Aku terus latihan berakting selama 17 tahun ini agar tampil meyakinkan. Kudengar anak yang keluar dari timun itu seorang perempuan. Oleh Sarni diberi nama Timun Mas. Nama yang jelek sebenarnya

Pagi-pagi sekali aku datang mendatangi rumah Sarni. Aku siap mengeluarkan akting terbaikku. Tetapi apa mau dikata. Aku kaget bukan kepalang saat mengetahui Sarni sudah pergi dari rumahnya, menyisakan Timun Mas sendirian yang sudah 17 tahun. Apa yang diucapkan Timun Mas lebih mengagetkanku.

“Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!” teriak Timun Mas keras.

Aku sungguh tak mengerti apa yang diteriakknya barusan. Tangkap aku kalau kau bisa? Mengapa aku harus menangkapnya? Mengapa ia mengucapkannya dengan wajah kurang ajar? Semua ini membingungkanku. Saat aku ingin menanyakannya Timun Mas sudah lari duluan. Mau tak mau aku mengejarnya. Ia satu-satumya petunjuk tentang Sarni.

Di tengah jalan, Timun Mas melemparkan biji timun yang ternyata biji timun ajaib. Dari biji yang dilemparkannya tumbuh tanaman menjalar raksasa yang melilitku hingga susah bergerak. Tapi itu bukan apa-apa bagi raksasa sepertiku. Meski sedikit menghambat, aku akhirnya bisa kembali menyusul mengejarnya. Satu hal kecil yang menganggu pikiranku. Biji timun ajaib tadi pasti ulah petapa siake itu. Bahkan saat dia tidak ada dia masih saja mengganggu hidupku. Tak lama kemudian Timun Mas mas mengeluarkan senjatanya yang kedua. Apalagi kali ini?

Yang ia keluarkan garam. Aku sempat menertawakan garam itu yang kemudian aku sesali. Dari segenggam garam itu muncullah sebuah lautan! Aku cukup kelabakan menghadapi lautan yang muncul tiba-tiba ini. Hampir tenggelam, aku akhirnya bisa menyebrangi laut ini dengan renang gaya kupu-kupu. Entah bagaimana Timun Mas bisa lolos dari lautan ini dan sekarang jauh berada di depan. Saat kukira semua persenjataan Timun Mas habis, ia mengeluarkan yang terakhir. Terasi. Kukira terasi itu adalah terasi super bau yang akan membuat kita pingsan saat menciumnya. Ternyata aku salah. Dari terasi itu keluarlah lumpur panas yang lengket. Aku tercebur di dalamnya. Dan karena lengket renang gaya kupu-kupu tidak membuatku maju. Tak berhenti di situ, aku juga mencoba berenang dengan gaya katak dan lumba-lumba. Tapi tetap saja aku tak maju satu senti pun. Malahan aku terus tenggelam meter demi meter. Dasar Timun durhaka! Begini-begini aku masih ayahmu!

Pada akhirnya aku mati. Aku tak sempat memamerkan aktingku pada Sarni. Dan yang lebih penting, ia tetap tak tahu kalau raksasa mengerikan ini adalah suaminya. Kalau dipikir ulang ini semua karena aku mencuri timun dari petapa. Seandainya aku, pria nakal yang mencuri timun ini tidak dijadikan raksasa, mungkin aku masih bisa hidup bahagia dengan memakan timun haram. Lebih baik aku dikurung dan tidak diberi ampun. TAMAT

(Catatan)

Ini adalah karangan sendiri. Mau tau kisah aslinya? Baca cerita Timun Mas yah…

AYO LESTARIKAN KISAH-KISAH DAN DONGENG ASLI INDONESIA!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s