Pohon = Ilmu

Kalau kau tanya aku siapa atau apa personifikasi benda yang paling bijak, mungkin aku akan jawab pohon. Ya, pohon. Bukan bijak layaknya hakim, namun bijak hanya karena kewujudannya. Sejak zaman dahulu kala, keberadaan pohon adalah keramat. Ketika manusia banyak menuhankan banyak benda, pohon adalah salah satu ‘tuhan’ yang memiliki banyak pengikut. Mungkin yang penyebabnya adalah karisma bijak natural yang dimiliki pohon. Atau aura misterius yang mengelilingi sang pohon. Entahlah. Yang jelas sejak Siddharta Gautama hingga sekarang, eksistensi pohon sebagai makhluk bijak dan mistis masih nyata. Bahkan yang menyatakan pohon sebagai tuhan saat ini juga lumayan banyak.

Tetapi tidak. Aku tidak akan berbicara tentang animisme. Aku melihat kearifan pohon dari sisi yang berbeda. Aku melihat pohon sebagai inkarnasi dari roh pendidikan

Pohon dapat dianalogikan sebagai sebuah sekolah, tempat belajar dan menimba ilmu. Mulai serabut dari tunggang hingga pucuk dari daun, semua bagian pohon dapat menjadi persona bagian dari sekolah. Akar adalah buku. Sebagaimana akar perlangsungan kehidupan tanaman, buku adalah sumber kehidupan ilmu. Dalam hal ini yang dimaksud ilmu adalah air. Tanpa air pohon akan mati, tanpa ilmu kita akan mati. Selain itu akar juga menentukan bagaimana pohon akan tumbuh sebagaimana buku yang menentukan kepribadian dan ilmu pembacanya.

Batang adalah guru. Penyalur, pembimbing, sekaligus pembina. Membawa air dari akar hingga pucuk. Mengarahkan agar sampai menuju tempat yang benar. Persis layaknya guru. Batang yang baik adalah batang yang kokoh, tebal dan yang mampu meyampaikan air ke seluruh bagian pohon. Kokohnya batang dapat diibaratkan kuatnya karakteristik sang guru hingga dapat menanamkan idealisme yang dalam bagi siswanya. Tebalnya batang bagaikan tebalnya ilmu dari sang guru. Cara batang mengalirkan air persis cara guru mengajarkan ilmunya. Dan karena itulah guru pantas diagungkan. Karena ia, guru, menyalurkan jutaan nafas kehidupan.

Dan yang berada di puncak itu semua adalah daun alias anak didik. Daun akan asri dan kuat bila kebutuhan akan airnya tercukupi. Sama halnya dengan anak didik yang melaju jauh bila memperoleh ilmu dan pengalaman yang kaya. Daun kemudian gugur. Namun gugurnya daun tak pernah sia-sia. Bangkai daun tersebut menjadi nutrisi untuk sang pohon. Atau mungkin bisa membentuk bibit baru bersama ranting kemudian bersama angin membangun pohon baru. Begitulah seterusnya. Mungkin inilah inti dari semuanya.  Demi memberi air pada daun. Demi melanjutkan ilmu pada murid. Demi abadinya ilmu pengetahuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s