Di Balik Jendela

Di Balik Jendela

Hitam. Pekat. Tanpa gradasi. Aku tak suka gelap. Aku takut gelap. Dan sayangnya kegelapan ini abadi.

Tipikal atmosfer rumah sakit, tak ada cuaca yang lebih pas selain sinar matahari yang teduh. Suara-suara yang ada pun selalu sama. Derak roda tempat tidur rumah sakit, derap langkah cepat perawat, sahutan telepon bergantian berbunyi menanyakan kabar pasien. Rumah sakit selalu disesaki aura teduh nan menenangkan dari pasien, kerabat bahkan staf rumah sakit sekalipun. Suasana menenangkan itu bukan berarti baik karena bisa jadi di balik ketenangan mereka terbersit rasa cemas akan kelanjutan hidup seseorang. Simpati, emosi, sentimen tergambar jelas dari wajah melankolis mereka. Ketika berada di bawah atap rumah sakit, semua orang tanpa sadar patuh akan semacam aturan tidak tertulis rumah sakit demi menjaga ketenangan dan kedamaian pasien. Rumah sakit adalah satu tempat dengan satu harapan.

“Tunggulah di sini setidaknya hingga sore nanti. Om masih takut ditinggal sendiri. Om butuh seseorang untuk menemani. Kamu nggak kasihan sama om ?” Pria gemuk itu memelas.

“Sekali lagi Wiwik minta maaf om. Tapi kemarin sudah hari ke-4 Wiwik nggak berangkat kerja. Bolos lebih jauh bisa bisa Wiwik nggak dapat gaji bulan ini.” Wiwik kemudian mendekat ke pamannya sambil menggenggam tangannya,“Om harus mengerti Wiwik harus pergi. Nanti siang Andre katanya mau menyusul jenguk om. Nggak lama kan ? Selama itu om bisa istirahat sebentar. Oh ya, suster di sini juga cepat tanggap kok. Nih Wiwik taruh bel pemanggilnya di tangan kiri om. Kalau ada apa apa tinggal pencet tombol yang ini.”

Pria gemuk itu tak dapat berkata apa apa lagi. Kondisi seperti ini sama sekali bukan keinginannya. Seandainya ia memiliki istri atau anak, setidaknya ada seseorang yang bisa terus mendampinginya. Ia sendirilah yang memilih untuk tidak menikah. Baginya, menikah dan mempunyai anak itu merepotkan. Setidaknya begitulah jawabannya ke orang banyak ketika ditanya mengapa enggan menikah sewaktu muda dulu. Kini ia sedikit menyesali pilihannya.

“Wiwik ngerti kalau Om masih belum terbiasa dengan kondisi Om yang sekarang. Dengan berjalannya waktu, suatu saat pasti Om akan terbiasa juga. Benar kalau Wiwik nggak buta tapi Wiwik mengerti kesulitan Om. Percayalah Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dilewati umatnya. Wiwik yakin Om bisa. Nggak usah mikirin mati dulu. Umur Om masih panjang.”

Melihat. Sesuatu yang terjadi alamiah bagi hampir seluruh manusia sejak dilahirkan. Hal lumrah yang jarangkali dipertanyakan bagaimana proses terjadinya ataupun disyukuri. Hebatnya, manusia perlu melihat untuk melakukan segala sesuatu. Mungkin satu-satunya kegiatan yang tak perlu melihat hanyalah tidur. Sebab itu melihat menjadi ketergantungan. Tidak perlu jauh jauh, tanpa melihat, mungkin saja kita memakai jins dari kepala dan kaus polo dari kaki. Ketika berjalan kita takkan pernah sampai di tujuan karena tak tahu apakah jalan yang kita lalui sudah benar atau salah. Sulit untuk mengenali orang lain karena hanya dapat membedakan mereka dari suaranya atau jika diizinkan meraba-raba wajahnya. Dan sekarang si pria gemuk harus menghadapi semua kesulitan itu. Ia baru sadar kalau ternyata melihat adalah anugrah terindah yang dimiliki manusia.

Pria gemuk itu kini duduk terdiam sambil meraba-raba sesuatu di matanya. Ada perban tebal yang melingkar matanya. Katanya belum boleh dibuka selama cairan eksudat di belakang retinanya masih banyak. Tanpa sadar ia menangis. Sambil terisak ia terus menyesali apa yang diperbuat selama ini. Wiwik, keponakannya, sudah berkali-kali mengingatkan kalau menangis sambil terisak-isak begitu tak ada gunanya lagi. Semuanya sudah lewat. Biarlah semua yang dilakukannya di masa lalu berlalu. Yang terpenting sekarang bagaimana si pria gemuk menjalani hidupnya yang baru. Walaupun pria gemuk tahu kalau keponakannya benar, kebutaan yang tiba-tiba merupakan pukulan hebat  baginya. Di hari pertama ia tak bisa melihat adalah yang terparah. Ia terus menggumam dan berteriak kalau hidupnya tidak ada gunanya tanpa melihat. Tak ada yang bisa ia lakukan tanpa melihat dan katanya suntik mati adalah opsi yang terbaik. Dokter dan perawat sampai kewalahan menghadapinya. “Sekarang apa yang ingin kulakukan? Aku sudah bosan tidur melulu. Mataku bengkak karena tidur.” Pria gemuk mengeluh lagi. Kata “mati” kembali datang menghampiri.

Kamar rawat inap yang ia tempati adalah kamar kelas I yang artinya cukup eksklusif dan hanya untuk 2 orang. Saat itu hanya pria gemuk penghuni kamar tersebut sebelum perawat masuk mendorong ranjang berisi pasien baru. Ada pasien baru.

Pasien yang baru masuk adalah seorang pria kurus pucat dengan rambut yang rontok tidak karuan. Wajahnya terasa menyenangkan. Kombinasi wajah dan rambut acak-acakan itu membuatnya kelihatan seperti Doc Brown dari Back to The Future. Pasien baru ini di tempatkan di seberang kiri pria gemuk, tempat yang berpapasan langsung dengan jendela. Tepat setelah perawat pergi, si Doc Brown ini langsung mengoceh.

“Aaaah, akhirnya. Kamar baru yang nyaman dan tidak kosong. Kemarin aku mendapatkan kamar yang sangat luas tanpa orang kecuali aku. Rasanya sepi sekali bro. Tak ada yang bisa diajak ngobrol”, pria Doc Brown membuka pembicaraan

Pria gemuk, yang tak tahu sama sekali kondisi kamarnya, merasa kaget dengan apa yang dikatakan si Doc Brown ini. Suaranya berat dan serak. Pria gemuk yakin kalau Doc Brown sudah berumur lanjut. Yang membuat ia kaget adalah Doc Brown memanggilnya dengan ‘bro’, hal yang dirasa kurang pantas lagi bagi pria sepertinya.

“Yo, sepi emang nggak enak, bro”, pria gemuk menimpali dengan gaya menyindir

“Hahaha, menarik juga kau. Baiklah, karena sepertinya kita akan lama berada di sini, sebaiknya kita berkenalan. Rudi Valentino, adenocarcinoma stadium 3.”

Adenocarcinoma?”

“Kanker paru-paru sel besar. Stadium 3 artinya sudah pada tahap nggak cuma menjangkiti paru, melainkan diafragma.” Pria gemuk tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia dapat membayangkan dari suaranya kalau Doc Brown mengatakan hal itu sambil tersenyum. Seolah suatu berita baik. “Ayo giliranmu. Nama dan penyakit apa yang membawamu ke sini.”

“Ehm, Rudi Wiryawan, diabetic retinopathy.

“Kita punya nama yang sama! Rudi. Orang tua kita mengerti bagaimana cara memberi nama yang baik.” Doc Brown tertawa serak. “Dan penyakitmu itu. Apa tadi namanya? Diabetes…

Diabetic retinopathy. Turunan penyakit diabetes.” Pria gemuk mengulangi istilah dokter yang ia dengar seminggu lalu.

‘Nha itu. Namamu jelas lebih keren!” Doc Brown tertawa lagi. “Walaupun para ilmuwan berada di posisi kontra ke penyakit-penyakit, mereka tetap saja memberikan nama yang keren.” Gaya humor yang tak dimengerti oleh pria gemuk. “Hmm, biar kutebak dari perban matamu itu, pasti penyakitmu itu berhubungan dengan mata. Katarak?”

“Bukan. Ini kebutaan permanen.”

Suasana seketika hening. Doc Brown terdiam untuk sesaat. Sebenarnya pria gemuk sama sekali tidak tahu apakah penyakitnya dapat disembuhkan atau tidak. Ia mengatakannya semata-mata merasa frustrasi.

“Hahaha, pertama kali aku mendengar diabetes bisa menyebabkan kebutaan. Ah tapi sudahlah. Itulah yang kau dapatkan kalau terlalu banyak makan ayam Rudi.” Tampak Doc Brown mencoba menghibur. “Karena kita punya nama yang sama, lebih baik aku panggil kau dengan nama penyakitmu. Diabetic retinopathy kan? Kalau begitu ‘Retino’ saja. Oke Retino, kau ingin memanggilku apa?

“Seperti anak kecil saja. Saya cukup memanggil kamu dengan namamu. Rudi.” Orang unik. Begitu pikir pria gemuk saat itu. Di tengah usianya yang lanjut ia berbicara layaknya masih belasan tahun. Namun entah kenapa pria gemuk ikut larut dalam keceriaan Doc Brown.

Dan begitulah awal perjumpaan mereka. Tak satupun dari mereka mengira kalau pertemuan mereka saat itu dapat berarti penting.

“Hahahaha…”

“Ada apa kali ini?” tanya pria gemuk penasaran

“Di luar jendela, di taman, ada anak kecil yang luar biasa girang karena mencetak gol. Padahal baru mencetak satu dan timnya masih ketinggalan 1-7, tapi selebrasi si anak heboh sekali. Sampai buka baju begitu. Hahahaha, dia tidak malu dengan perutnya yang bergelambir ikut melambai-lambai”, tambah Doc Brown sambil tertawa.

“Hahaha”, pria gemuk tertawa. Harus diakuinya kalau membayangkan si anak melakukan di depan umum cukup menggelikan.

“Oh tunggu tunggu, dia dikartu merah! HAHAHAHA. Sepertinya wasit kecil itu menganggap membuka baju sama dengan pelecehan seksual yang menjijikkan. HAHAHAHA.” Tawa Doc Brown meledak

“Hahahahaha, seharusnya ia menguruskan badan terlebih dahulu sebelum melakukan itu. Hahahaha.” Pria gemuk ikut tertawa. Sudah lama ia tidak tertawa semenjak masuk rumah sakit. Ia sangat menikmati tawa kali itu.

“Ini lebih baik dibanding televisi bro.” kata Doc Brown. “Ini tampilan nyata kehidupan. Tidak seperti televisi sekarang yang suka sekali melebih-lebihkan fakta. Lewat jendela ini kita bisa mendapatkan hiburan yang lebih menarik!”

Semenjak itu Doc Brown, yang berposisi dekat jendela secara rutin menceritakan apa yang sedang terjadi di luar jendela tersebut. Sepertinya ada banyak sekali kejadian setiap harinya. Mulai sekumpulan anak kecil bermain bola, remaja yang lari pagi dan sore, bahkan pernah juga kejadian kejar-kejaran maling. Pria gemuk, sebagai pendengar, menyukai semua yang diceritakan Doc Brown dari balik jendela itu. Cara pembawaan cerita Doc Brown begitu bersemangat dan penuh emosi. Seringkali hanya dengan mendengar intonasinya pria gemuk sudah tersenyum simpul. Di saat-saat begini, cerita dari Doc Brown adalah satu-satunya hiburan bagi pria gemuk.

“Oh oh oh, kayaknya bakal ada kejadian seru nih…” Doc Brown memulai.

“Apa apa?” Pria gemuk terpancing.

“Ada pria muda berpakaian rapi dengan jas, duduk di bangku taman sambil memegang bunga. Sepertinya dia ingin menyatakan cinta!” Seru Doc Brown semangat.

“Hahaha, perempuan zaman sekarang tidak ada yang membutuhkab bunga! Mungkin masih berlaku untuk zaman kita, tapi sekarang yang perempuan mau cuma perhiasan. Terus, teruskan Rud. Sedang apa dia sekarang?”

“Tunggu… ah itu dia si gadis datang. Cantik sekali gadis itu. Bayangkan Paramitha Rusadi, Ret. Tinggi dan putih!”

“Hebat, hahaha. Pemuda itu punya mata jeli.”

“Nha, mereka berbincang. Lalu, lalu oh tidak. Si pria berlutut sambil menyerahkan bunga pada gadis itu.”

“Oh, takkan berhasil. Mana mau perempuan sekarang bunga-bungaan. Harusnya ia beri cincin!”

“Sepertinya kau jago dalam hal ini bro,” Doc Brown menimpali. “Tunggu sebentar, ah si gadis membanting semua bunga yang diberi lalu kabur! Hahahaha”

“Sudah kubilang Rud, perempuan cuma mau dilamar dengan cincin!”

“Ikhlaskan gadis itu nak. Masih banyak ikan di lautan, HAHAHAHA”, lalu mereka berdua tertawa puas. Siapa sangka dengan menonton para muda-mudi itu bisa seasyik ini, pikir si pria gemuk.

Kondisi psikologis pria gemuk semakin hari semakin membaik. Ia tak pernah memikirkan mati lagi. Wiwik pun ikut senang dengan perkembangan dari pamannya. Ia juga berkenalan dan berhubungan baik dengan si Doc Brown. Berkat Doc Brown, pria gemuk bisa melalui masa depresi. Doc Brown sadar hal itu. Maka ia tanpa bosan bercerita apa yang terjadi di luar jendela setiap hari, sesering mungkin.

“Pria waktu itu datang lagi?” Pria gemuk bertanya semangat.

“Ya, dan sepertinya ia tak pernah belajar. Ia membawa bunga lagi.”

“Dia kacau bung. Lebih baik teriak panggil dia untuk naik ke atas sini. Biar saya ajari ia apa yang seharusnya ia lakukan dari awal.” Pria gemuk mulai congkak.

“Hahaha, kau benar bro. Oh itu si gadis datang lagi. Si pria berdiri, menyerahkan bunga lalu…”

“Lalu apa?”

“Si gadis cemberut dan bersiap pergi, tapi…”

“Tapi apa? Nggak sabar dengar kamu ngomong!” kata pria gemuk sambil terkekeh karena merasa digantung pencerita.

“Oh ada yang lain bro! Si pria berbicara serius dengan si gadis. Kemudian si pria berlutut lagi, tapi kali ini bukan bunga yang ia berikan.”

“Cincin?”

“Kau benar bro, cincin. Cincin yang bagus”

“Hahahaha”, pria gemuk kembali tertawa

“Si gadis menerima cincin itu, dan, dan memeluk erat si pria. Hahaha…”

“Hahahaha”, pria gemuk bertepuk tangan. Ia merasa gembira sekali

“Sepertinya ia belajar darimu bro.”

“Haha, ya, salut padanya.”

Mereka diam sejenak. Lelah karena puas tertawa.

“Hey Rudi Valentino,” panggil pria gemuk. “Kalau saja kamu tidak ada, dan tidak bercerita tentang sesuatu yang terjadi di taman itu, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin saya sudah mati bunuh diri. Atau mungkin mati karena kebosanan.”

“Aku menikmati bercerita denganmu Retino”

“Saya kira sudah tak ada lagi hidup jika kita tak bisa melihat. Kamu membuktikan kalau saya salah. Kamu membuat saya sadar, bahwa masih begitu banyak yang dapat kita nikmati, meskipun tanpa melihat. Terima kasih.” Kata terima kasih yang diucapkan pria gemuk terasa begitu ikhlas dan damai.  Seolah ia sama sekali tak memiliki penyesalan lagi. Bersama dengan itu, Doc Brown ikut merasa senang bisa menghabiskan waktu bersamanya.

Seorang perawat masuk ke dalam kamar mereka.

“Apa bapak sudah siap?” Perawat berbicara dengan Doc Brown

“Ah, sudah waktunya. Siapa yang bisa tidak siap kalau menyangkut masalah begini?” Doc Brown mendesah pasrah. Jelas ia tidak suka dengan ini. Doc Brown akan dioperasi. Pria gemuk paham tentang betapa pentingnya operasi ini. Sebelum pergi, pria gemuk meminta untuk menggamit tangan Doc Brown

“Semoga berhasil kawan. Aku mendoakanmu.”

Itu menjadi percakapan mereka yang terakhir…

***

Esoknya perawat yang biasa membawakan sarapan datang ke kamar pria gemuk dengan hanya membawa satu nampan. Pria gemuk sadar hanya ada satu nampan yang diantar ke kamarnya.

“Hanya satu nampan? Mana orang di sebelah saya?”

“Bapak Rudi Valentino gagal dalam operasinya. Ia meninggal”

Pria gemuk merenung. Semudah itukah manusia mati? Kemarin bercerita panjang lebar tentang semua yang ia lihat dan hari ini mati? Pria gemuk kehilangan seorang sahabat. Sahabat yang karenanya ia masih memiliki hasrat untuk hidup.

“Suster, bisakah suster membantu saya. Tolong suster beri tahu saya, apa ada pria yang membawa bunga di taman luar jendela kamar ini?”

Perawat yang dimintai tolong merasa heran. Ia merasa bingung dengan apa yang diminta oleh pria gemuk, namun tetap dilakukannya.

“Tidak ada apa-apa, Pak”, kata perawat heran

“Tidak ada?”

“Ya, tidak ada apa-apa di balik jendela ini.Yang ada cuma tembok bata.”

Pria gemuk termangu. Tidak ada apa-apa di balik jendela kamar ini. Perawat itu tidak mungkin berbohong.

Selama ini Doc Brown bercerita seolah-olah melihat sesuatu di balik jendela. Sejak masuk di ruangan itu, ia bisa menebak kalau si pria gemuk masih baru dengan kebutaannya. Ia berpura-pura melihat anak bermain bola, maling kabur dan pria melamar wanita, mencoba mengganti penglihatan pria gemuk dengan cerita karangannya. Doc Brown, masih memikirkan hidup orang lain, saat nyawanya sendiri berada diujung tanduk.

Pria gemuk tertawa sendiri mengingat temannya itu. Mungkin, hanya mungkin, Doc Brown melakukan itu semata-mata demi menumbuhkan semangat hidup si pria gemuk. Demi kelangsungan hidupnya

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s